Friday, November 14, 2014

KAJIAN SUBALTERNITAS DALAM DOMINASI KEBUDAYAAN MUSIK LOKAL BARAT DALAM PENDIDIKAN MUSIK FORMAL (PENGANTAR TEORI MUSIK) DI INDONESIA

A. PENGANTAR

Telah diketahui, dimengerti, serta dipahami bahwa musik adalah sebuah bentuk seni mengolah bunyi. Semesta pembicaraan dari musik adalah bunyi dan olahan bunyi dalam musik sering dikatakan melibatkan rasa, bahkan karsa manusia yang terdalam sekalipun. Itulah mengapa musik bukanlah hanya sekedar pembelajaran dan atau pelajaran tentang keterampilan dalam mengolah bunyi. Musik adalah sebuah ilmu pengetahuan. Musik adalah sebuah pendidikan. Sekolah musik di Indonesia sanggup digolongkan menjadi sekolah musik formal, yang berupa perguruan tinggi musik, akademi musik, institut musik, serta lembaga formal musik yang lainnya. Sedangkan untuk pendidikan non-formal musik berupa lembaga pendidikan kursus musik yang banyak terdapat di berbagai kota yang tersebar luas di Indonesia.

Satu hal yang seringkali terlupakan mengenai pendidikan formal (atau lebih spesifik mengarah kepada bentuk pendidikan yang disebut sebagai Pengantar Teori Musik atau Sejarah Dasar Musik), disini mengarah kepada pendidikan tersebut dalam keberlangsungannya dalam sistem yang tercipta di Indonesia, adalah tentang bagaimana mutlaknya pendidikan kebudayaan musik lokal Barat sebagai dasar dari pengantar pendidikan musik tersebut. Pendidikan musik seringkali diungkapkan "berkiblat ke arah dunia Barat", baik dalam tahapan pengenalan dasarnya maupun juga di dalam perkembangannya di dunia. Dalam hampir setiap buku pengantar musikyang tersedia secara umum berisi tentang perkembangan musik Barat. Komposer-komposer klasik kenamaan seperti Wolfgang Amadeus Mozart, atau Ludwig van Beethoven adalah nama-nama yang sudah pasti akan dipelajari dalam Pengantar Teori Musik. Begitu pula dengan perkembangan musik pada masa Barok, Renaisans, dan lain sebagainya merupakan sebuah bukti yang sangat jelas akan besarnya dominasi kebudayaan musik lokal Barat sebagai sebuah dasar atau landasan pendidikan musik di Indonesia, bahkan di dunia.

Beberapa pertanyaan yang utama seperti "Apakah benar asal-usul musik yang ada di dunia ini berasal dari kebudayaan musik lokal Barat sehingga kemudian Pengantar Teori Musik merujuk kepada perkembangan musik Barat saja?", serta "Dimanakah letak musik-musik tradisional atau endemik yang bahkan telah ada di dalam masyarakat Indonesia jauh sebelum musik Barat mendominasi musik di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia?"

Teori Post-Kolonialisme melalui konsepnya, Subalternitas, memberikan sebuah dasar bagi penjelasan yang terkait tentang pokok-pokok permasalahan serta analisa yang telah saya lakukan, sehingga terbentuknya makalah singkat ini. Pokok pembahasan yang saya angkat adalah bagaimana kebudayaan musik lokal Barat telah berhasil mendominasi standar pendidikan musik, konsentrasi yang ada di sini adalah Pengantar Teori Musik di Indonesia, yang bahkan menghapuskan jejak eksistensi kebudayaan musik lokal Indonesia sendiri di dalam materi-materi pembahasannya.

B. SUBALTERN DAN PENDIDIKAN MUSIK DI INDONESIA

Konsep Subalternitas bisa didefinisikan sebagai sebuah konsep yang memberikan sebuah penjelasan tentang kelompok masyarakat atau sebuah kelompok sosial yang menjadi subyek hegemoni oleh kelompok-kelompok atau kelas-kelas yang memiliki otoritas (yang berkuasa), yang sering disebut kaum elit. Kaum Subaltern tidak memiliki kemampuan untuk memahami keberadaannya, serta tidak memiliki ataupun tidak sanggup menyuarakan aspirasi maupun gagasan-gagasannya. Subjek Subalternitas dalam bahasan ini adalah posisi yang dimiliki oleh kebudayaan musik lokal, khususnya dalam hal ini adalah kebudayaan musik lokal Indonesia, dimana posisinya sebagai sebuah kebudayaan musik lokal tersebut 'dihilangkan' keberadaannya oleh eksistensi dan hegemoni tersirat kebudayaan musik lokal dari Barat.

Memang, untuk menjaga serta mengembangkan nilai sebuah karya musik, baik karya oleh para pelakunya, maupun karya oleh para komposernya, maka perlu didirikan lembaga-lembaga pendidikan musik. Di Indonesia, pemerintah telah mendirikan Sekolah Musik Indonesia pada tahun 1951, yang kemudian disertai oleh didirikannya Akademi Musik Indonesia beberapa tahun setelahnya. Kedua institusi pendidikan tersebut terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lalu, sebenarnya apa saja yang menjadi standar kompetensi atau bahan pembelajaran dalam institusi-institusi pendidikan musik tersebut? Di dalam buku "Komponis, Pemain Musik dan Publik" oleh Sumaryo L.E. membagi teori dasar musik menjadi tiga (3) bagian, yaitu Bidang Penciptaan Musik (Komposisi), Bidang Penyajian Musik (Sastra), dan Mengenai Publik (Audiensi). Sementara itu, Bruno Nettl mengungkapkan bahwa pendidikan musik formal di seluruh dunia harus melingkupi tiga (3) buah komponen utama, yaitu studi tentang musik klasik Barat, studi tentang tradisi musik lokal, dan pengetahuan umum mengenai musik-musik lokal lainnya dari negara ataupun belahan bumi lainnya yang berbeda.

Apakah benar bahwa asal-usul musik di dunia ini berasal dari dunia Barat? Menurut sudut pandang studi Etnomusikologi, musik tidak lagi ideal jika dikatakan berasal dari kebudayaan Barat serta lahir dan hidup sejak masa klasik Eropa. Musik bisa dikatakan sebagai sebuah bahasa yang universal bagi orang pada umumnya. Tetapi, untuk memahami asal-usul dari dunia musik (the origins of the musical world) tersebut, musik bukanlah sebuah bahasa yang universal, tetapi, lebih tepat didefinisikan sebagai sebuah bahasa yang memiliki karakteristiknya masing-masing, atau juga bisa dikatakan sebagai sebuah sistem komunikasi, dimana dalam setiap bagiannya saling terhubung dan bersatu tanpa harus mengurangi keunikannya masing-masing, serta setiap dari bagian tersebut sama bermaknanya untuk dipelajari dan dipahami. Dalam definisi ini, tidak ada kebudayaan musik tertentu yang kemudian menonjol dan berkuasa atas kebudayaan-kebudayaan musik lainnya. Dengan pandangan bahwa dunia musik adalah sebuah bagian-bagian dari sebuah sistem musik yang jelas dan lengkap, serta memiliki batasan-batasan yang membedakannya serta mampu memberikan warna khusus dalam setiap bagiannya, hal ini kemudian dianggap sebagai sebuah perkembangan yang positif bagi sudut pandang tentang dunia musik (musical world).

Namun, tetap saja dalam standar kompetensi maupun bahan pembelajaran Pengantar Teori Musik didominasi oleh kebudayaan musik lokal Barat dan hal tersebut belum berubah hingga saat ini. Lalu, bagaimanakah dengan posisi kebudayaan musik lokal Indonesia? Ya, di dalam banyak buku Pengantar Teori Musik tidak ditemukan materi tentang musik lokal Indonesia seperti angklung, gamelan, dan lain sebagainya. Alasan tidak adanya materi tentang kebudayaan musik lokal Indonesia tersebut karena materi-materi yang ada di dalamnya (tidak hanya musik lokal Indonesia, namun juga musik-musik lokal negara lainnya di luar bumi Eropa) memiliki perbedaan klasifikasi dalam pembelajarannya. Sebenarnya, apakah definisi dari klasifikasi pembelajaran tersebut?

Jadi, hal tersebut bukanlah merupakan konsentrasi dari pendidikan musik formal di Indonesia, juga dalam Pengantar Teori Musik, sehingga eksistensinya kemudian secara bertahap dihapuskan dari materi pembelajaran Teori Musik, sehingga sampai dengan saat ini, keberadaan musik lokal tersebut sudah tidak lagi ditemukan di dalam literatur fisik Pengantar Teori Musik. Kelengkapan informasi yang dimiliki oleh sejarah kebudayaan musik lokal Barat yang menjadi alasan utama mengapa pendidikan musik formal di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, kemudian dikatakan berkiblat ke arah dunia Barat. Kebudayaan musik lokal Barat dianggap lebih kompleks, dan namun jauh lebih terstruktur secara sistematis jika harus dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan musik lokal lainnya di seluruh dunia. Pada perkembangannya, kebudayaan musik lokal Barat memberikan perhatian yang intens, sehingga terus mengalami perkembangan yang signifikan. Di awali dengan sebuah tradisi untuk mempelajari musik hanya melalui kemampuan seseorang untuk mendengar, dan yang kemudian berkembang masuk ke dalam bentuk-bentuk penulisan yang lebih khusus, seperti lembaran partitur yang menggunakan notasi-notasi balok, serta mempelajari harmoni dan keterkaitannya di dalam sebuah komposisi ataupun pembentukan musik itu sendiri. Berbeda dengan kebudayaan musik lokal negara maupun benua lainnya (termasuk Indonesia) yang perkembangannya jauh lebih pasif dari masa ke masa, dan ruang lingkupnya yang cenderung lebih mikro (hanya ada dan berkembang dalam suatu daerah tertentu, biasanya hanya dalam daerah asalnya, dan merupakan sebuah tradisi turun-temurun). Persebaran kebudayaan musik lokal Barat pun cenderung jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan kebudayaan musik lokal lainnya (hal ini berkaitan erat dengan konsep Gold, Glory, and Gospel yang menjadi kata kunci dari setiap ekspedisi yang dilakukan oleh bangsa Eropa).

C. ETNOMUSIKOLOGI SEBAGAI JAWABAN?

Lalu, dimanakah letak kebudayaan musik lokal Indonesia saat ini? Dimanakah keberadaan kebudayaan musik lokal yang bahkan telah ada dan hidup di dalam masyarakat Indonesia jauh sebelum kebudayaan musik lokal Barat masuk ke Indonesia? Jika dilakukan sebuah pencarian serta pengkajiannya di dalam pendidikan musik formal, atau spesifiknya Pengantar Teori Musik, baik itu departemen Musik Komposisi maupun Sastra Musik, maka eksistensinya tidak akan ditemukan. Berbicara tentang keberadaan atau eksistensinya saat ini, maka perlu dibahas tentang kajian studi Etnomusikologi. Apakah definisi dari Etnomusikologi?

Di Indonesia, program studi Etnomusikologi masihlah sebuah program studi yang bisa dikatakan, baru. Istilah Etnomusikologi dalam bahasa Inggris ialah Ethnomusicology. Etnomusikologi dibentuk dari tiga (3) buah kata dasar, yaitu etnos, mausike, dan logos (bahasa Yunani). Etnos memiliki arti sebagai sebuah kehidupan bersama, yang kemudian sanggup dikembangkan menjadi bangsa ataupun etnis. Mausike memiliki definisi sebagai ruang bunyi, atau lebih umumnya adalah musik. Logos memiliki definisi sebagai bahasa atau ilmu. Jadi dalam arti yang sangat sederhana, Etnomusikologi bisa diartikan sebagai sebuah ilmu tentang musik bangsa-bangsa, atau ilmu tentang musik etnis dunia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Etnomusikologi memiliki pengertian sebagai "ilmu perbandingan musik yang bertujuan untuk memperoleh pengertian tentang sejarah asal-usul, perkembangan, serta persebaran musik pada pelbagai bangsa di dunia." Seorang pakar Etnomusikologi, Bruno Nettl, mendefinisikan Etnomusikologi sebagai "ilmu yang mempelajari musik dan berbagai aspeknya dalam kebudayaan manusia, biasanya di luar kebudayaan Barat."

Peranan dari studi Etnomusikologi itu sendiri adalah melepaskan kebudayaan musik lokal non-Barat dari belenggu pendidikan musik formal yang memiliki kiblat ke arah kebudayaan musik lokal Barat. Sebuah poin utama dari studi bidang Etnomusikologi ini adalah bahwa musik yang ada di semesta adalah campuran kebudayaan manusia dari setiap belahan dunia. Semua musik yang telah ada tidak hanya tercipta karena kebudayaan itu sendiri, namun juga merupakan pengaruh dari kebudayaan-kebudayaan lainnya. Setiap kebudayaan mempunyai konsepsinya sendiri mengenai keberadaan dunia musik, tidak terkecuali Indonesia, dan keberagaman inilah yang menjadi konsentrasi utama dari bidang studi Etnomusikologi. Dalam dunia yang modern seperti saat ini, Etnomusikologi mengajarkan kepada setiap orang yang tertarik akan studi ini bahwa Etnomusikologi tidak hanya mempelajari kebudayaan musik lokal tertentu saja, namun juga seluruh kebudayaan-kebudayaan musik lokal di dalam setiap lingkup sosial di seluruh dunia, baik itu secara umum maupun secara khusus, karena di dalam Etnomusikologi, musik adalah sebuah cara yang efektif untuk mendefinisikan pengertian dari kebudayaan yang ada dalam sebuah kelompok sosial tertentu, dan juga mampu berperan untuk menghargai kebudayaan dari lingkungan sosial lainnya di luar kebudayaannya sendiri. Dan yang dimaksud dengan lingkungan sosialnya tidak berarti hanya lingkungan yang dibedakan berdasarkan negaranya, atau sekelompok yang dikategorikan ke dalam sistem penggunaan bahasa yang sama, namun juga kelompok-kelompok yang dikategorikan berdasarkan kelas sosial, mata pencaharian, sistem kepercayaan (agama), dan yang juga cukup penting, berdasarkan pengelompokkan usianya. Setiap kelompok sosial di dalam sebuah masyarakat secara universal memiliki kebudayaannya sendiri, keseniannya sendiri, serta pengertian terhadap musikalitasnya tersendiri.

Keberadaan kebudayaan musik lokal di Indonesia dalam kajian studi Etnomusikologi pun menjadi sebuah primadona, dan dalam beberapa universitas di dunia telah menjadi sebuah "mata kuliah yang sangat sayang untuk dilewatkan". Kenyataan ini tentu juga menyelamatkan eksistensi dari kebudayaan musik lokal Indonesia, baik di Indonesia sendiri, maupun di mata dunia.

Sebenarnya kenyataan ini pula telah menjadi sebuah kesempatan emas, terutama bagi para pelaku seni di Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu kebudayaan musik lokal Barat dan membuktikan kepada masyarakat Indonesia secara umum, dan kepada dunia secara luas, bahwa kebudayaan musik lokal Indonesia juga memiliki kualifikasi yang sangat baik sebagai acuan dasar dalam bidang studi musik, walaupun masih diperlukannya penyusunan ulang secara lebih sistematis dalam penulisan akademisnya sebagai bahan pembelajaran pendidikan musik formal, atau dalam istilah lainnya, mengembalikan kembali posisi kebudayaan musik lokal Indonesia masuk ke dalam bab pembelajaran Pengantar Teori Musik. Etnomusikologi telah menjadi jembatan yang telah berfungsi dengan sangat efektif dalam perkembangan musik dunia, yang menghidupkan kembali kebudayaan musik lokal suatu daerah, tidak terkecuali di Indonesia. Etnomusikologi telah berhasil menjadi salah satu sumber materi pembelajaran musikalitas, memunculkan ide-ide baru tentang musik, dan mengubah sudut pandang manusia (masyarakat) secara umum mengenai keberadaan eksplanasi asal-usul dunia musik.

Lalu, apakah kemudian sebenarnya pendidikan musik formal  dan studi Etnomusikologi merupakan dua buah bidang yang saling bertolak belakang? Tentu tidak.  Kedua bidang tersebut saling melengkapi serta saling mengisi, dan telah menciptakan keseimbangan yang baik terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tentang musik. Etnomusikologi bukan semata-mata sebagai bentuk protes tidak berdasar terhadap pendidikan musik formal yang berkiblat ke arah kebudayaan musik Barat, namun adalah sebuah solusi cerdas untuk menyeimbangkan keberadaan antara kebudayaan musik lokal Barat dengan kebudayaan musik lokal Indonesia.

D. PENUTUP

Pendidikan musik formal, dalam hal ini mengambil perhatian khusus terhadap Pengantar Teori Musik, sudah memiliki aturan yang bersifat mutlak dalam penentuan standar kompetensinya, yang pada garis besarnya berisi tentang studi perkembangan kebudayaan musik lokal Barat, yang kemudian turut menghilangkan eksistensi kebudayaan musik lokal Indonesia. Keadaan ini, untuk saat ini, belum tergoyahkan karena kebudayaan musik lokal Barat dianggap lebih kompleks dan juga lebih terstruktur dengan sistematika yang baik, sehingga sangat cocok dan dianggap memenuhi kualifikasi untuk dijadikan kajian utama dalam pendalaman materi Pengantar Teori Musik di Indonesia. Kebudayaan musik lokal Indonesia tidak mampu mengikuti jejak sebagai salah satu bab Pengantar Teori Musik karena kajian akademisnya yang sudah cukup kompleks, namun belum memiliki sistematika struktur yang baik seperti kebudayaan musik lokal Barat.

Namun, keadaan tersebut telah ditemukan solusinya, di saat studi tentang Etnomusikologi, yang adalah studi mengenai pendalaman musik dan berbagai aspeknya dalam kebudayaan manusia, terutama kebudayaan di luar peradaban Barat (non-Barat), masuk dan menjadi program studi baru di Indonesia. Studi ini kemudian berhasil mengkaji kebudayaan musik lokal Indonesia menjadi sebuah kajian akademis yang kompleks dan terstruktur dan berhasil 'memberikan nyawa' kembali kepada kebudayaan musik lokal Indonesia, tidak hanya di dalam negeri, namun juga berhasil menjadi primadona, atau materi musik dengan peminat terbanyak, dalam bidang studi Etnomusikologi bertaraf internasional.

Hal ini juga perlu mendapatkan catatan tambahan bahwa keberadaan Etnomusikologi bukanlah semata-mata sebagai sebuah bentuk perlawanan atau protes terhadap pendidikan musik formal di Indonesia, maupun di dunia. Hal ini adalah solusi yang sangat baik dalam perkembangan musik dunia karena berhasil mengkaji ratusan bahkan ribuan kebudayaan musik lokal di dunia non-Barat, termasuk Indonesia. Bahkan keberadaan studi Etnomusikologi selain untuk melestarikan keberadaan kebudayaan musik lokal, juga berperan sebagai penyeimbang akan pendidikan musik formal (kebudayaan musik Barat) dengan kebudayaan musik lokal, dalam tulisan ini, khususnya kebudayaan musik lokal Indonesia.

Tuesday, October 21, 2014

MUSIKALITAS DAN DISPOSISI

Seseorang yang disebut sebagai pencipta musik memerlukan selera musikal dan bakat yang khusus untuk mulai menciptakan sebuah karya orisinilnya. Selera musikal atau musikalitas saja belum bisa memberikan sebuah jaminan yang cukup untuk menentukan adanya sebuah bakat untuk menciptakan sebuah karya orisinil. Saya beranggapan bahwa musikalitas merupakan sebuah syarat yang mutlak bagi seseorang jika ia ingin menerjunkan diri ke dalam sebuah dunia yang disebut dengan dunia artistik musikal. Orang yang memiliki musikalitas disebut sebagai orang yang musikal.

Orang yang musikal lantas belum tentu mampu belajar bagaimana cara memainkan sebuah biola dengan baik, atau membuat sebuah karya musik orisinil yang bisa dikatakan baik. Musikalitas seseorang mempunyai ketepatgunaannya sendiri. Seseorang mungkin memiliki bakat khusus untuk memainkan sebuah biola dengan sangat baik, sedangkan ada juga seseorang yang akan jauh lebih sukses jika ia mendalami piano. Dan mungkin yang lainnya lagi mungkin akan lebih merasa cocok untuk mempelajari cara memainkan sebuah klarinet.

Hal-hal demikian lalu oleh kebanyakan tenaga didik musik mengatakan bahwa setiap orang memiliki disposisi, baik untuk belajar memainkan piano maupun biola, terompet dan seterusnya. Disposisi ini sangat bergantung kepada faktor-faktor kejiwaan serta fisik (keadaan jasmaniah) orang yang dikatakan musikal sebelumnya.

Dengan menggunakan psycho test, para ahli musik telah menemukan cara-cara tertentu untuk menetapkan disposisi musikalitas seseorang. Psycho test ini telah banyak sekali membantu mengurangi kekecewaan seseorang di dalam memilih alat musik yang hendak dipelajarinya di kemudian hari.

Tentang test jasmaniah untuk menetapkan disposisi musikalitas seseorang, disini dapat dikemukakan sebuah contoh. Seseorang yang mempunyai pertumbuhan gigi sebelah muka yang tidak baik, janganlah hendaknya ia memilih terompet sebagai alat yang hendak dipelajari. Yang mempunyai cedera pada tangan kirinya, jangan umpamanya mencoba untuk mempelajari biola, karena suatu ketika, jika ia tetap melakukannya, ia akan menemukan kesukaran-kesukaran tertentu. Penelitian terkait disposisi ini hendaknya janganlah dianggap remeh oleh seseorang yang ingin menerjunkan dirinya ke dalam dunia olah musik. Sebagai contoh, seseorang yang musikal ingin sekali untuk mempelajari piano. Lalu, setelah ia belajar selama satu tahun, gurunya memberitahu kepadanya bahwa dia tidak mempunyai bakat khusus untuk menjadi seorang pianis yang baik. Untuk sekedar memainkannya memang tidak apa-apa. Atau untuk menjadi seorang pianis amatir, misalnya. Tetapi semua hal tersebut terserah kepada orang tersebut. Jika berhasil nantinya, syukurlah. Jika tidak berhasil, sudahlah. Dengan kemauan yang keras untuk belajar, dia pindah ke bidang pelajaran biola. Disini ia juga tidak mampu untuk mencapai kemajuan yang telah diharapkan. Aneh, padahal dalam mata pelajaran lainnya, musikalitasnya cukup baik.

Akhirnya sesudah mulai belajar memainkan alat-alat perkusi (yang dipukul) beberapa waktu lamanya, gurunya sangat bergembira. Bergembira karena melihat muridnya maju dalam waktu yang relatif cepat. Ternyata, sebenarnya ia memiliki disposisi untuk alat-alat perkusi. Dia sangat peka terhadap irama atau ritme. Akan tetapi, bagaimanapun juga, murid dan gurunya tersebut telah membuang waktu selama dua tahun. Satu tahun untuk belajar piano dan satu tahun untuk mendalami biola. Tetapi semua hal tersebut bukanlah masalah. Belajar musik memang membutuhkan kesabaran, kemauan yang keras serta ketekunan dari para pembelajarnya. Demikian juga dengan para tenaga didiknya.

Sunday, September 14, 2014

BUAH BERBAGI

Suatu ketika, Tuhan memberikan kesempatan kepada seorang manusia untuk bertemu denganNya. Manusia tersebut berkeinginan untuk melihat bentuk surga dan juga neraka, dan Tuhan pun dengan senang hati mengabulkannya. Tuhan kemudian membimbing manusia tersebut berjalan menuju dua buah pintu dan meminta manusia untuk masuk ke dalamnya, dimulai dari ruangan yang pertama.

Di tengah ruangan yang pertama terdapat sebuah meja yang sangat besar. Meja tersebut dipenuhi oleh aneka makanan yang sangat lezat. Di sekeliling meja tersebut terdapat orang-orang kurus kering yang terus menerus meneteskan air liurnya. Pada tangan orang-orang tersebut terikat sebuah sendok panjang untuk mencapai makanan-makanan yang tersedia di meja tersebut. Tetapi karena sendok tersebut terlalu panjang, mereka tidak dapat menyuapkan makanan-makanan tersebut ke mulut mereka masing-masing, meskipun makanan-makanan tersebut mampu diraih dengan sendok-sendok di tangan mereka tersebut.

Tuhan lalu berkata, "Kamu telah melihat neraka."

Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke ruangan yang berikutnya. Didalam ruangan tersebut juga terdapat sebuah meja besar dengan aneka hidangan lezat yang tersaji di atasnya, sama persis dengan apa yang ada pada ruangan yang sebelumnya. Namun, orang-orang yang mengelilingi meja tersebut terlihat cerah, gembira dan sehat, meskipun di tangan setiap orang-orang tersebut juga terikat sebuah sendok yang sangat panjang tersebut, sama persis dengan apa yang terikat pada orang-orang yang ada pada ruangan yang pertama.

Manusia tersebut pun kemudian merasa bingung. Ia kemudian bertanya kepada Tuhan, "Apa yang terjadi, mengapa di ruangan ini semua orang itu terlihat sehat dan juga bergembira?"

Tuhan pun menjawab, "Sederhana saja. Orang-orang di dalam ruangan ini dengan senang hati dan ikhlas menyuapi satu sama lain, yang bisa diraih menggunakan sendok panjang tersebut. Sementara orang-orang yang kelaparan dalam ruangan yang sebelumnya sangatlah serakah dan hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri. Mereka kemudian mengabaikan keberadaan yang lainnya dan hanya terpaku pada makanan-makanan lezat yang tersaji di meja tersebut."

Saturday, September 13, 2014

REMAJA DAN PERMASALAHANNYA DALAM MENEMUKAN IDENTITAS DIRI

Secara umum, persoalan-persoalan yang dihadapi oleh remaja berkisar pada masalah-masalah pribadi yang identik dengan para remaja itu sendiri. Masalah pribadi yang dimaksud tersebut antara lain mencakup hal-hal berikut.

  1. Persoalan yang dihadapi didalam rumah, misalnya masalah kedisiplinan, hubungan dengan anggota keluarga yang lainnya, dan seterusnya.
  2. Masalah yang dihadapi di sekolah, seperti misalnya hubungan dengan para guru, teman-teman, nilai-nilai, kegiatan-kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, pola keterampilan, dan seterusnya.
  3. Persoalan kondisi fisik, misalnya kesehatan individual, kesehatan sosial, dan seterusnya.
  4. Masalah penampilan, misalnya ketampanan atau kecantikan, cara berpakaian, dan seterusnya.
  5. Persoalan perasaan, misalnya sikap yang murung, mudah marah, murah senyum, dan seterusnya.
  6. Masalah penyerasian sosial, misalnya pergaulan dengan teman sebaya, masalah kepemimpinan, dan seterusnya.
  7. Persoalan nilai-nilai, misalnya moralitas, persepsi seksualitas, pola interaksi, dan seterusnya.
  8. Masalah rasa khawatir, misalnya rasa berbahaya, kekecewaan, dan seterusnya.
Masalah-masalah pribadi demikian berkaitan erat dengan persoalan-persoalan yang identik dengan remaja, misalnya masalah kemandirian, hak dan kewajiban, kebebasan, pengakuan terhadap eksistensi budaya remaja, dan masalah-masalah lainnya yang boleh dikatakan bersifat universalistik. Persoalan-persoalan tersebut menimbulkan berbagai ciri atau karakteristik dalam diri remaja, yang juga bersifat umum, dengan catatan bahwa kemungkinan terjadinya variasi tetaplah ada.


A. REMAJA DAN CIRI-CIRINYA

Golongan remaja muda adalah para gadis yang berusia 13 hingga 17 tahun. Hal inipun sangat tergantung pada tingkat kematangannya secara seksual, sehingga penyimpangan-penyimpangan secara kasuistis pasti ada. Bagi laki-laki, yang disebut remaja muda adalah mereka yang berusia 14 hingga 17 tahun.

Apabila remaja muda sudah menginjak usia 17 hingga 18 tahun, mereka lazim disebut golongan muda atau pemuda-pemudi. Sikap mereka didalam bertindak rata-rata sudah mendekati pola sikap bertindak orang dewasa, walaupun melalui sudut perkembangan mentalitas mereka belum sepenuhnya demikian. Biasanya mereka berharap agar mereka dianggap dewasa oleh masyarakat.

Dari sudut batas usia saja sudah terlihat bahwa golongan remaja sebenarnya tergolong dalam kategori golongan yang transisional. Artinya, keremajaan merupakan gejala sosial yang bersifat sementara, oleh karena posisi mereka terletak antara usia kanak-kanak dan usia dewasa. Sifat sementara dari kedudukannya tersebut mengakibatkan remaja cenderung masih mencari identitasnya, karena oleh anak-anak mereka sudah dianggap dewasa, sedangkan orang dewasa masih menganggap mereka kecil. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari sudut kepribadiannya, para remaja memiliki karakteristik tertentu, baik secara fisik maupun rohani. Contoh karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Perkembangan fisik yang pesat, sehingga ciri-ciri fisik sebagai laki-laki maupun wanita tampak semakin tegas, bagaimana secara ditonjolkan oleh para remaja, sehingga perhatian terhadap jenis kelamin lainnya semakin meningkat. Oleh para remaja, perkembangan fisik yang baik dianggap sebagai salah satu kebanggaan.
  2. Keinginan yang kuat untuk mengadakan interaksi sosial dengan kalangan yang lebih dewasa atau yang dianggap lebih matang kepribadiannya. Terkadang diharapkan bahwa interaksi sosial tersebut mengakibatkan masyarakat menganggap remaja sudah dewasa.
  3. Keinginan yang kuat untuk mendapatkan kepercayaan dari kalangan orang dewasa walaupun terkait masalah tanggung jawab relatif belum matang.
  4. Mulai memikirkan kehidupan secara mandiri baik secara sosial, ekonomi, maupun politik, dengan mengutamakan kebebasan dari pengawasan yang terlalu ketat dari orang tua maupun sekolah.
  5.  Adanya perkembangan tingkat intelektualitas untuk mendapatkan identitas dirinya.
  6. Menginginkan sistem nilai yang serasi dengan kebutuhan atau keinginannya yang tidak selalu sama dengan sistem nilai yang dianut oleh orang dewasa.
Contoh ciri-ciri tersebut sebenarnya merupakan harapan-harapan yang dimiliki oleh para kaum remaja. Karena mereka masih belum memiliki identitas yang mantap, maka dengan sendirinya diperlukan sosok panutan untuk membimbing mereka untuk mencapai cita-cita atau memenuhi hal-hal yang menjadi harapan mereka. Bimbingan sangat diperlukan, karena untuk mencapai cita-citanya, terkadang kalangan remaja bisa melakukan hal-hal yang oleh orang dewasa dianggap eksentrik atau aneh, misalnya seperti berikut.
  1. Kalangan remaja berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan situasi akan tetapi dengan cara-caranya sendiri. Jika hal tersebut terwujud, maka mereka akan merasakan adanya perasaan bahagia didalam diri mereka.
  2. Pola tindakan yang diakui atau dihargai oleh sesama remaja dianggap sebagai suatu superioritas atau lebih tepatnya dianggap sebagai sebuah pengakuan terhadap superioritas (biasanya terjadi didalam peer-group atau kelompok sepermainan). Pengakuan terhadap eksistensi sangatlah penting oleh para remaja.
  3. Berbagai media penyaluran rasa tegang diciptakan oleh para remaja misalnya membunyikan radio atau musik keras-keras, tertawa terbahak-bahak terhadap lelucon yang konyol, begadang bersama teman-temannya, mengemudikan kendaraan bermotor dan sering melanggar peraturan lalu lintas, dan lain sebagainya.
  4. Mencoba membuat ciri identitas tersendiri seperti misalnya menggunakan pola bahasa khusus yang terkadang sulit dipahami oleh kalangan diluar golongan remaja, yang artinya baik itu oleh golongan anak-anak maupun golongan orang dewasa. Terkadang mereka berusaha menciptakan kebudayaan khusus melalui pola perilaku tertentu yang berbeda dengan orang dewasa.
Hal-hal tersebut memang merupakan suatu gejala yang pasti timbul pada kebanyakan remaja. Yang diperlukan untuk mencegah efek negatifnya adalah suatu bimbingan (bukan indoktrinasi). Bimbingan tersebut seharusnya dilakukan secara persuasif, oleh karena periode keremajaan dihiasi oleh faktor-faktor emosional yang sangat kuat. Tanpa adanya bimbingan yang tepat, akan terjadi kesulitan pada pola hubungan dengan orang tua, kerabat, tetangga, guru-guru di sekolah, dan seterusnya. Para remaja biasanya mengharapkan bimbingan tersebut datang dari orang tuanya sendiri, yang diharapkan mampu menjadi sosok ideal baginya. Jika harapan tersebut tidak terpenuhi, remaja cenderung akan frustasi, yang mungkin mengakibatkan terjadinya hal-hal berikut.
  1. Sikap agresif.
  2. Mencari kambing hitam yang sebenarnya merupakan korban yang tidak bersalah.
  3. Kemunduran dalam diri misalnya menjadi banyak melamun.
  4. Regresi, yaitu melakukan hal-hal yang di masa lalu memuaskan dirinya.
  5. Mengurangi aspirasi atau sebaliknya.


B. HUBUNGAN ORANG TUA DENGAN REMAJA

Kesulitan-kesulitan dalam mengadakan hubungan yang serasi antara orang tua dengan remaja pasti ada. Akan tetapi kesulitan-kesulitan tersebut ada yang dengan mudah bisa diatasi, namun ada pula yang sulit untuk diatasi. Walaupun tidak selalu demikian, namun ada kecenderungan-kecenderungan umum mengenai masalah-masalah yang sulit atau kurang sulit untuk ditanggulangi. Sudah tentu bahwa ada berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, misalnya keadaan sosial-ekonomi, mentalitas, lingkungan pekerjaan, lingkungan sosial, dan seterusnya.

Pada umumnya, penafsiran tentang tingkatan kesulitan masalah hubungan antara orangtua dengan anak-anaknya yang sedang menjadi seorang remaja tergantung pada orangtua dengan remaja dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi. Yang perlu dijadikan pedoman adalah bahwa hendaknya orangtua tidak hanya menggunakan sudut pandang “orangtua” untuk menilai pola tindakan para remaja. Mereka harus diberitahu dan diajak untuk memahami berbagai hal yang mungkin tidak terpuji. Artinya, janganlah segala sesuatu hanya diberikan dalam bentuk perintah-perintah yang berisikan larangan-larangan belaka. Para remaja pada akhirnya akan bertanya: “Apa yang sebenarnya boleh saya perbuat? Semua hal serba dilarang.

Apabila kesulitan-kesulitan tersebut tidak tertanggulangi, maka besar kemungkinannya remaja merasa tidak nyaman dan bahagia, sehingga dia bisa mengalami hal-hal sebagai berikut.

  1. Disorganisasi perilaku.
  2. Bersikap murung.
  3. Senang berkelahi dengan orang lain.
  4. Bersikap anti sosial.
  5. Merasa kesepian.
  6. Tidak peduli dengan perkembangan diri.
  7. Senang mengkambing-hitamkan orang lain.
  8. Lari dari kenyataan yang dihadapinya.


C. REMAJA YANG MENENTANG

Penanggulangan terhadap kesulitan pada hubungan antara orangtua dengan remaja sangatlah penting. Hal ini disebabkan, karena apabila masalah tersebut tidak ditanggulangi, maka para remaja biasanya akan menentang orangtuanya atau orang-orang yang dituakan, misalkan guru. Para remaja yang menentang tersebut biasanya dapat dibedakan dalam (paling tidak) empat golongan. Penggolongan tersebut didasarkan pada efek negatif dari pendidikan yang dialaminya di rumah. Golongan-golongan yang menentang tersebut biasanya dapat dibedakan menjadi bagian-bagian seperti berikut.

  1. Pemberontak yang menentang atau tidak mentaati semua pihak yang memegang kekuasaan. Mereka juga tidak mentaati semua nilai tradisional yang berlaku. Sikap menentang dilakukan secara terbuka dan seringkali disertai rasa marah.
  2. Pembaharu adalah mereka yang berkeinginan untuk mengubah segala pola perilaku tradisional maupun adat-istiadat. Pola tindakan dan adat istiadat yang berlaku dianggapnya penuh dengan kekurangan, sehingga dirasa tidak sesuai.
  3. Aktivis yaitu golongan yang sebenarnya merupakan pembaharu, namun juga menggunakan cara-cara yang lebih radikal atau keras.
  4. Golongan eksentrik yang mengundurkan diri dari pergaulan umum dan  menciptakan peraturan-peraturan sendiri. Mereka rata-rata melakukan tindakan menentang secara individual.
Walaupun lingkungan sosial juga memiliki peranan penting untuk menciptakan remaja yang menentang, tetapi pada intinya penyebab utamanya tetap menitikberatkan kepada pola pendidikan di rumah. Pola pendidikan yang diterapkan oleh orangtua memegang peranan yang utama, sehingga menghasilkan remaja yang baik, atau menentang. Pola pendidikan yang serba otoriter menciptakan kondisi yang berpotensi menjadikan remaja sebagai seorang penentang atau remaja eksentrik. Orangtua adalah mereka yang tergolong kalangan konservatif yang tidak terlalu memperhitungkan aspek inovatisme dalam diri remaja. Anak-anak mereka dididik untuk menjadi orang yang patuh, sehingga cenderung membatasi tingkat kreativitas pada anak maupun remaja.

Teori-teori yang berasal dari masyarakat Barat cenderung berpendapat bahwa golongan orangtua yang seperti itu adalah mereka yang termasuk didalam status sosial-ekonomi yang agak lemah. Namun di Indonesia tidak selalu demikian keadaannya, karena kecenderungan yang demikian juga ditemukan pada keluarga-keluarga dengan status sosial-ekonominya relatif baik. Remaja yang menentang, yang mungkin tergolong pemberontak dan eksentrik mungkin juga timbul dari pola pendidikan yang pelaksanaannya hanya menitikberatkan kepada salah satu dari orangtua saja, misalkan hanya ibu. Atau terkadang rasa menentang juga timbul dari remaja yang berasal dari keluarga-keluarga dimana orangtuanya terlampau sibuk, sehingga hanya dapat memberikan perhatian yang sangat terbatas, atau bahkan, tidak sama sekali.

Pendidikan yang diterapkan secara liberal dalam rumah terkadang menghasilkan remaja yang termasuk kategori pembaharu atau aktivis. Pada umumnya, remaja yang demikian berasal dari keluarga yang orangtuanya banyak terlibat dalam dunia politik praktis, walaupun tidak selalu demikian. Golongan remaja yang menentang tersebut pada umumnya melancarkan kritik-kritik terhadap kalangan-kalangan tertentu, misalnya orangtuanya, kakak-kakaknya, guru, kerabat, dan seterusnya.


D. PENUTUP

Secara teoritis, tidak mungkin untuk menemukan upaya-upaya yang pasti untuk menanggulangi permasalahan yang telah diuraikan di atas. Sepertinya kunci yang pokok adalah hubungan yang akrab antara orangtua dengan anak-anaknya yang menginjak usia remaja. Hubungan yang akrab tersebut bukanlah semata-mata hanya didasarkan kepada landasan kebendaan saja, akan tetapi senantiasa harus ada penyelarasan dengan landasan spiritual juga. Kedua landasan tersebut tidak mungkin dipisahkan, apalagi saling menggantikan. Keduanya harus selalu diselaraskan, sehingga menghasilkan efek yang baik. Tekanan yang terlampau berat terhadap nilai spiritualisme akan menyebabkan remaja sulit untuk mempelajari dan memahami realitas kehidupan sehari-hari. Jika tekanannya terlampau kuat kepada nilai kebendaan (materialisme), maka remaja tidak akan mampu menghargai hasil-hasil yang diraih melalui proses dan kerja keras; mereka tidak mengenali arti dari bekerja keras untuk mencapai sesuatu secara jujur.

Selain itu, maka pola pendidikan terhadap remaja janganlah semata-mata hanya didasarkan kepada tolok ukur yang diciptakan oleh orangtua. Misalnya, hingga saat ini masih banyak orangtua yang memaksakan kehendaknya agar anak-anaknya memasuki sekolah-sekolah tertentu dengan maksud supaya bisa mengikuti jejak ayah atau ibunya. Apabila memang keinginan anak memang sama, maka tidak akan ada persoalan; akan tetapi apabila remaja memang tidak menginginkannya, maka akan timbul konflik apabila orangtua tetap memaksakan kehendaknya. Mungkin sikap menentang dari remaja tidak selalu tampak. Akan tetapi, dalam kebanyakan hal, nanti setelah mereka menyelesaikan studinya, maka dia akan memilih bidang pekerjaan yang digemarinya, yang tidak jarang jauh dari objek studinya terdahulu.

Hal yang hampir sama mungkin dihadapi remaja dalam memilih pola rekreasi yang bermanfaat bagi remaja, yang mungkin sama sekali tidak masuk dalam pertimbangan orangtua. Dalam hal ini seharusnya orangtua terlebih dahulu mengadakan pembicaraan dengan remaja untuk memilih, menyarankan alternatif berdasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan mana yang lebih baik dan mana yang agaknya kurang baik. Para remaja harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya dengan menciptakan pola rekreasi sendiri (bila mampu). Apabila hal ini sanggup dilakukan, maka orangtua sebaiknya melakukan bimbingan secara berkelanjutan, karena dalam memilih atau menciptakan pola rekreasi tertentu, remaja masih mencari identitas dirinya.

Dengan mempelajari seluk beluk kehidupan remaja secara seksama, orangtua mampu membantu mereka menemukan identitas dirinya. Pola kehidupan remaja pada zaman sekarang memiliki ciri-ciri tersendiri; orangtua tidak bisa memaksakan ciri-ciri kehidupan remaja pada zaman mereka terhadap anak-anaknya. Jika hal tersebut tetap dipegang oleh orangtua, serta tetap diterapkan, maka cara tersebut hanya akan memperbesar kesenjangan. Yang seharusnya dilakukan oleh orangtua dan remaja itu sendiri adalah membandingkan yang sekarang dengan yang dahulu; kemudian orangtua harus memberikan kesempatan kepada anaknya yang adalah remaja untuk memilih pola-pola apa yang hendak dia ambil sendiri.

NILAI TAMBAH MANUSIA

Otak merupakan ciptaan Tuhan yang luar biasa. Anda bisa mengetahui dan memetakan kejadian yang ada di depan Anda karena adanya otak. Semua yang pernah dilihat mata, dirasakan oleh kulit, dan dikecap oleh lidah telah terekam dalam memori otak Anda. Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan itu terwujud oleh adanya akal pikiran yang menggerakkan manusia. 

Sejak dilahirkan, manusia telah mengalami beberapa fase dalam menjalani kehidupannya. Fase yang membentuk manusia umumnya sangat kompleks, unik, dan mempunyai kekhususan yang meliputi unsur fisik, mental, dan sosial. Perkembangan jiwa manusia meliputi aspek kognitif, emosi, perilaku, sosialisasi, dan komunikasi. Aspek kognitif merupakan kemampuan seseorang untuk menerima, mengolah serta menggunakan berbagai macam informasi yang diperolehnya melalui lingkungan di sekitarnya.

Anda tentunya masih ingat ketika masih kecil, Anda diajari oleh orangtua Anda untuk mengenal benda-benda di sekitar Anda. Begitu pula dengan apa yang melekat pada tubuh Anda. Ketika berusia dua tahun, orangtua mengajari anaknya kegunaan dari indera yang dimiliki seseorang. Bisa Anda bayangkan, bukan? Usia dua tahun merupakan masa dimana seorang anak ingin menyentuh apapun dan mencoba segalanya. Hal tersebut terjadi karena si anak terdorong keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya. Apa yang terjadi ketika orangtua selalu melarang tindakan si anak? Tentunya sikap serba melarang akan menumbuhkan rasa tidak percaya diri dan mengurangi perasaan aman didalam diri seorang anak. Balita berusia dua tahun belum memahami arti bahaya dari hasil perbuatannya.

Berbagai metode pengasuhan anak bermunculan belakangan ini. Semua upaya tersebut dilakukan untuk memberikan nilai tambah bagi manusia kecil tersebut. Tuhan telah memberikan karunia besar dengan meniupkan roh dan membiarkan Anda menjalani kehidupan. Tuhan telah memberikan bentuk fisik dan keluarga yang melimpahi Anda dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Bagaimana cara Anda untuk berterimakasih kepada Tuhan?

Sangat mudah. Berilah nilai tambah dari apa yang telah Anda miliki sejak lahir. Tuhan senantiasa melakukan kebaikan kepada umatNya. Itu artinya, Anda juga didorong untuk melakukan kebaikan terhadap ciptaan Tuhan yang lainnya. Manusia dilahirkan dengan indera lengkap berupa mata, mulut, lidah, telinga, serta tangan dan kaki. Bahkan manusia berkebutuhan khusus pun diberi kelebihan tersendiri oleh Tuhan. Jika orang tersebut tidak memiliki penglihatan, Tuhan akan memberikannya pendengaran tajam yang melebihi orang lain. Jika orang tersebut tidak memiliki tangan, maka Tuhan menganugerahi kaki yang sangat lincah untuk menggantikan keberadaan tangan. Untuk berterimakasih kepada Tuhan, seluruh indera yang dimiliki harus digunakan. Ketika berdoa, tangan digunakan untuk menengadah, melipat, maupun berdzikir, dan lain sebagainya. Pada dasarnya, menengadahkan tangan atau lainnya adalah perbuatan yang paling sederhana dalam berterimakasih kepada Tuhan. Gunakanlah tangan untuk memeluk orang-orang yang marah. Gunakanlah tangan untuk membelai anak yang membutuhkan kasih sayang. Gunakanlah tangan untuk bekerja menghidupi keluarga.

Mengapa setiap manusia harus memberikan nilai tambah terhadap setiap penciptaan Tuhan? Coba perhatikan majalah atau media massa di sekitar Anda. Ada banyak iklan produk yang memberikan tempelan kata plus untuk menunjukkan bahwa produk yang ditawarkan memiliki nilai lebih. Produk suplemen misalnya. Saat ini Ester C dikenal sebagai multivitamin generasi ketiga yang berfungsi untuk memperkuat daya tahan tubuh tanpa memberikan efek samping berupa nyeri lambung bagi penderita sakit maag. Produk Ester C pun telah dikembangkan oleh salah satu produsen suplemen di Indonesia menjadi Ester C plus dengan tambahan chlorella dalam tiap butir pilnya. Sekarang apakah guna penambahan kata plus pada produk Ester C tersebut? kata plus mengandung arti bahwa obyek yang lebih baik dan atau memiliki nilai tambah dibandingkan produk yang sebelumnya.

Semua hal yang memiliki nilai tambah selalu lebih baik dan berkualitas. Tuhan menyebut manusia yang memiliki nilai tambah sebagai “garam dunia”. Sebagai garam, manusia harus siap setiap saat untuk memberikan rasa baru kepada jiwa-jiwa hambar yang belum mengenal Tuhan. Garam memberikan rasa baru bagi suatu masakan. Manusia harus mampu memberikan rasa baru bagi lingkungan disekitarnya. Dalam mempertajam nilai tambah manusia, ada sepuluh komponen penting yang bisa terus Anda kembangkan. 

A. KOMUNIKASI

Sampaikan apa yang menjadi keinginan ataupun apa yang mengganjal dalam benak Anda secara halus dan jelas. Komunikasi tidak hanya berlangsung lewat pembicaraan verbal saja. Ingatlah bahwa Anda hidup di dalam budaya ketimuran yang kental. Sejak kecil, Anda tentu diajarkan untuk selalu peka terhadap sekitar. Komunikasi yang tergali lewat bahasa tubuh dan ekspresi marah sama pentingnya dengan luapan kata-kata. Pahami tatapan mata yang tidak memperbolehkan Anda untuk mengganggu sebuah pembicaraan, isyarat tangan yang meminta Anda untuk diam, dan sebagainya. 

B. HUBUNGAN DENGAN ORANG LAIN

Kenali kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Indonesia memiliki beragam suku, budaya, dan agama yang mengajari kebiasaan dan tata nilai atau norma yang berbeda. Tidak ada satupun di dunia ini yang sama, semua mengandung unsur perbedaan. Bahkan anak kembar pun memiliki perbedaan. Manusia diciptakan dengan penuh perbedaan. Tujuannya tentu bukan untuk saling membenci atau saling menjauhi, akan tetapi untuk saling mengenal dan memahami. Dengan kuasaNya, bisa saja Tuhan menciptakan keberagaman. Namun Tuhan tidak menghendaki hal tersebut. Tuhan menginginkan adanya perbedaan di antara semua ciptaanNya. Jika Anda tidak bisa menerima keberadaan yang lain dan tidak bisa hidup berdampingan dengan baik, maka samalah artinya dengan Anda belum mampu merefleksikan maksud dan tujuan Tuhan. 

C. KASIH SAYANG 

Perasaan cinta dan kasih sayang selalu ada di hati setiap manusia. Tuhan menciptakan kasih sayang agar manusia dapat hidup berdampingan dengan damai. Seorang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai akan mengikatkan diri di dalam tali suci pernikahan. Mereka membentuk keluarga dan menurunkan perasaan cinta dan kasih sayang tersebut kepada anak-anaknya. Jika perasaan tersebut memudar atau bahkan mungkin menghilang, maka keluarga yang tadinya bahagia akan tercerai berai. Hilangnya kasih sayang akan menimbulkan kekosongan di dalam hati manusia.

Mengapa manusia masih saja berselisih? Peperangan terjadi dimana-mana karena egoisme manusia untuk mencapai kepentingannya. Mereka yang telah kehilangan kasih sayang akan menimbulkan kekacauan di sekitarnya. Kasih sayang yang dimiliki orangtua kepada anaknya bisa berubah menjadi pertikaian. Di dunia ini banyak cinta palsu yang dibentuk atas kekuasaan dan kekayaan. Hari ini mereka berhubungan baik, hari esok mereka bermusuhan. Padahal, manusia tidak akan merasa bahagia dengan perpecahan dan permusuhan. Tanpa kasih sayang, suami-istri bercerai, suatu kelompok bertikai, antar sahabat saling mengecewakan, dan anak-anak menyakiti keluarganya. Orang-orang yang menderita sakit jantung, darah tinggi, dan sebagainya sesungguhnya berpuncak dari tekanan hidup akibat terpeliharanya rasa benci.

Perang terjadi karena manusia tidak mampu membendung rasa benci. Kelompok yang satu tidak sanggup menahan diri dari tantangan kelompok lain yang menginginkan pengaruh. Tidak ada satupun perang di dunia ini yang berawal dari keinginan manusia untuk berbuat kebaikan. Coba Anda lihat keluarga-keluarga yang mampu menjaga keharmonisan di tengah ujian hidup yang paling pahit sekalipun. Mereka akan selalu berada dalam ketenangan karena merasa Tuhan tengah menjaga mereka. Negara-negara yang memilih untuk tidak berperang identik dengan kesejahteraan masyarakatnya. Tidak perlu lagi ada desingan peluru, ledakan bom, teror, lemparan batu, tangisan perempuan dan anak-anak untuk mewujudkan kekuasaan. Hidup damailah karena cinta yang berkuasa. 

D. BERBAGI 

Biasakan diri Anda untuk berbagi kepada sesama. Dalam hidup, Anda tidak sendirian, masih ada orang lain yang kondisinya bisa saja berbeda dan perlu dibantu. Manusia cenderung melakukan perhitungan ketika sedang berbagi dengan sesamanya. Jika memiliki dua buah benda, maka ketika dibagi hanya akan tersisa satu. Jika hanya memiliki satu benda, bila diberikan maka tidak ada lagi yang tersisa. Perlu Anda sadari bahwa berbagi dengan sesama manusia tidak sama dengan hitungan didalam matematika. Ketika Anda tengah berbagi sesuatu yang Anda miliki, sesungguhnya barang tersebut tidaklah hilang, melainkan hanya berpindah tangan. Tuhan akan mengirimkan pengganti untuk Anda lewat tangan yang lain.

Saat Anda memberi, Tuhan sesungguhnya tengah melepaskan jiwa Anda dari belenggu duniawi. Tuhan tengah mendekatkan Anda dengan orang lain yang mengasihi Anda. Ketika seseorang yang tengah Anda bagi memberikan senyuman bahagia dan mengucapkan terimakasih, rasakan ketenangan dan kedamaian dalam hati Anda. 

Roda kehidupan selalu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Anda akan merasakan semua siklus tersebut. Jika Anda membiasakan diri untuk berbagi, ketika Anda tengah berada di bawah, Anda tidak akan merasakan kesulitan terlalu lama. Orang-orang di sekitar Anda akan dengan senang hati membagikan apa yang mereka miliki. Itulah buah dari kebaikan. Tidak hanya berbagi kepada manusia saja, Anda juga bisa berbagi kepada hewan dan tumbuhan juga. Penciptaan bumi ini tidak hanya untuk manusia, melainkan juga rumah bagi makhluk hidup lainnya. Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling mulia. Untuk menunjukkan kemuliaan tersebut, hargailah semua yang ada di muka bumi ini. 

E. KEPEMILIKAN

Eksistensi setiap manusia ditentukan oleh manusia yang lainnya. Anda dan orang-orang di sekitar Anda bisa saja menjadi pribadi yang asing satu sama lain, terlebih di era teknologi seperti saat sekarang. Manusia kini lebih memilih televisi, telepon genggam, komputer, laptop, dan sebagainya sebagai sarana untuk menghabiskan waktunya daripada berinteraksi dengan orang lain. Banyak dari pemuda dan remaja lebih nyaman berinteraksi dalam dunia maya daripada berinteraksi secara langsung lewat tatap muka. Melalui kecanggihan teknologi, manusia merasa lebih bebas, lebih nyaman, tidak terikat oleh nilai dan norma dalam masyarakat, bahkan merasa lebih bisa menjadi dirinya sendiri. Manusia pun merasa mampu menjalani kehidupannya sendiri tanpa mempedulikan sekitarnya. 

Nyamankah hidup seperti demikian? Apa yang dinikmati manusia melalui teknologi hanyalah sesuatu yang sifatnya semu. Lingkungan bukan hanya sekedar tempat untuk menambah relasi. Lingkungan tidak selalu sekedar tempat untuk mencari kebutuhan yang belum terpenuhi. Namun lingkungan yang sesungguhnya merupakan wadah untuk saling mengisi dan melengkapi. Manusia belajar untuk saling berinteraksi, saling memberi dan menerima, saling mengoreksi, menegur, serta saling melengkapi di lingkungannya. Lingkungan yang Anda tinggali sekarang tidak hanya berfungsi sebagai cermin untuk melihat sudut pandang yang sama sekali berbeda, tetapi juga sarana untuk memperbaiki diri. Ketika manusia mulai mengerti keberadaan lingkungannya, rasa memiliki atau sense of belonging dapat ditumbuhkan.

Jika Anda memiliki sebuah rumah, tentu Anda akan merawat dan membersihkan rumah tersebut setiap hari. Rumah merupakan sebuah tempat untuk melepas rasa lelah dan berkumpul bersama keluarga. Anda merawat rumah Anda karena ada rasa kepemilikan didalamnya. Sebuah tindakan yang dilakukan karena Anda merasa bertanggung jawab. Oleh karena itu, milikilah lingkungan tempat Anda tinggal. 

F. KEPEDULIAN DAN PERHATIAN 

Hidup yang penuh kepedulian akan membawa kita ke dalam hidup yang lebih bermakna, dan membuat kita lebih menikmati hidup. Alfred Adler mendefinisikan empati dengan kemampuan seseorang untuk “melihat dengan mata orang lain, mendengar dengan telinga orang lain, dan merasakan dengan hati orang lain”. Rasa kepedulian, kasih sayang, dan keinginan untuk menolong sesama bersumber dari adanya rasa empati pada diri seseorang. Seorang yang mempunyai rasa empati dapat merasakan penderitaan makhluk hidup lainnya. Akibatnya, timbullah keinginan untuk dapat berbuat sesuatu untuk menolong atau meringankan penderitaan sesama makhluk hidup.

Menumbuhkan rasa empati harus dimulai sejak dini, mulai dari dalam keluarga dan sekolah. Lingkungan yang penuh cinta dan rasa aman adalah syarat penting bagi proses tumbuhnya empati dalam diri manusia. Seorang anak yang terbiasa menerima perlakuan kasar dari orangtuanya akan keras hatinya sehingga rasa untuk berempati cenderung tertutup, ketika diajak merasakan penderitaan orang lain. 

G. PERASAAN 

Masihkan Anda ingat bagaimana rasa takut atau rasa berani mendorong Anda untuk melompat dari papan loncat di kolam renang atau bersepeda tanpa bantuan teman untuk pertama kalinya? Bukankah emosi yang seolah berada di belakang punggung Anda mendorong Anda untuk tetap melakukannya? Rasa takut, seperti takut kebanjiran, takut rugi, takut kena marah guru, takut dipermalukan di depan umum, dst. membuat Anda mau tak mau berusaha mengendalikan perilaku Anda. Ketika takut, bisa saja detak jantung Anda bertambah cepat dan tanganpun mengeluarkan keringat dingin. Sebaliknya, ketika marah, muka menjadi merah padam, emosi bergejolak, dan ingin sesegera mungkin menyakiti musuh. Ketika emosi berbicara, maka tubuh pun ikut bereaksi untuk menunjukkannya.

Pelajaran pertama supaya dapat memanfaatkan perasaan adalah dengan mengenalinya. Bila Anda berani jujur pada diri sendiri, Anda pasti bisa mengakui bahwa ada begitu banyak kebohongan yang ada dalam hati Anda. Anda sering menepis adanya rasa iri, khawatir, takut kalah, cemburu, dan lain-lain. Pernahkah Anda menemui seorang kawan yang sebenarnya iri tetapi mengklaim bahwa dirinya kecewa? Itu berarti kawan Anda tidak jujur terhadap dirinya sendiri dan pada Anda. Bila ia hanya ber-acting saja, pura-pura kecewa padahal ia sadar bahwa ia iri, biasanya ia pun bisa mengendalikan kata-kata dan perilakunya. Ketidakmampuan ini adalah awal dari tidak berdamainya individu dengan perasaannya. 

Berkenalan dengan emosi dalam diri sendiri sama halnya dengan cara orang lain yang hendak berkenalan dengan Anda. Cobalah melihat ke depan cermin ketika Anda tengah melakukan kebohongan pada perasaan Anda. Anda mungkin akan terkejut ketika melihat bagaimana berbedanya ekspresi yang Anda perlihatkan kepada orang lain dengan perasaan Anda yang sebenarnya. 

H. KEBERANIAN MEMILIH 

Prinsip keberanian dalam hidup mengatakan bahwa siapapun Anda, Anda harus mampu memilih dengan berani jalan hidup seperti apa yang akan Anda tempuh. Sudah selayaknya Anda memilih untuk mengisi kehidupan ini dengan segala hal yang memang seharusnya Anda hendak jalani. Sebagai seorang pembelajar, misalnya, Anda harus belajar dengan tekun, menanggung lelahnya belajar, sulitnya menguasai sebuah materi pembelajaran dan beratnya mempertahankan daya ingat akan sesuatu.

Hidup merupakan sebuah pilihan. Siapa yang berani berbuat harus mampu untuk mempertanggung jawabkannya. Demikian pula jika Anda telah memilih jalan yang dianggap masyarakat secara umum adalah jalan yang kurang baik. Anda harus berani untuk menghadapi segala resiko yang disebabkan oleh pilihan tersebut, yang mungkin saja mengancam keselamatan Anda, baik di dunia maupun di akhirat. Semua ini akan membawa Anda kepada kesadaran penuh akan segala tindakan yang hendak Anda ambil. Kesadaran bagi manusia yang telah menempuh jalan kebaikan akan mendatangkan keyakinan penuh atas jalan yang telah ditempuhnya tersebut, memicu motivasi, dan meningkatkan produktivitas. 

Maka, tidak ada pilihan bagi Anda, kecuali berani memilih jalan kebenaran. Anda harus berani mengakui kesalahan Anda bila tindakan yang telah Anda ambil memang salah, serta berani untuk bertanggung jawab atas segala tindakan yang diputuskan untuk mengisi hidup tersebut. Hidup memang harus dijalani dengan keberanian dan kesadaran diri yang benar.

Pembunuh hebat di zaman modern ini tidak berasal dari minuman kemasan, junk food, senjata pembunuh massal, ataupun penyakit fisik. Keadaan putus asa, perasaan mudah menyerah, rasa takut dan cemas, dan ketidakpercayaan diri merupakan racun yang merajalela dalam hidup seseorang. Secara perlahan namun pasti, mental manusia menjadi lebih lemah sehingga membuat seseorang menjadi terpuruk dan mungkin tidak bisa bangkit dari keterpurukannya tersebut. tidak perlu takut untuk menjadi seseorang yang berbeda. Anda harus memiliki keberanian untuk memperlihatkan diri Anda, daripada Anda hanya bersembunyi dari dunia yang nyata. 

I. KEHIDUPAN 

Setiap manusia selalu memiliki cara untuk memaknai kehidupan. Anda juga bisa melakukannya, yaitu dengan bekerja setiap hari dan dengan selalu menanamkan harapan dan menumbuhkan kebahagiaan bagi orang lain. Seperti halnya orangtua yang setiap hari membantu anak-anaknya. Coba Anda pikirkan, siapa yang sebenarnya benar-benar berpengaruh dalam dunia ini? Para pemimpin, tokoh kenamaan, ataukah orang-orang biasa? Para pemimpin maupun tokoh kenamaan hanya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan beberapa orang di sekitarnya. Kalau begitu, apa perbedaannya mereka dengan orang-orang biasa? Anda sesungguhnya memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan beberapa orang, khususnya keluarga dan orang-orang yang Anda kasihi. 

Hidup adalah kepastian dan terjadi dengan begitu saja, di luar kehendak manusia. Sementara manusia menjalani kehidupannya melalui setiap kemungkinan dan pilihan, yang oleh karenanya, manusia perlu berpikir dan merencanakan sesuatu. Menjalani hidup sekedarnya sebagai manusia tentu belumlah cukup, Anda harus memberikan makna terhadapnya. Keberadaan tidaklah cukup, Anda juga harus hadir. Perbedaan mendasar dari ada dan hadir adalah kesadaran dan relasi. Ada tidak mengharuskan adanya kesadaran dan relasi, sedangkan kehadiran mengharuskan adanya kesadaran dan relasi yang dibentuk. 

J. MENGATASI MASALAH 

Masalah ada bukan untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi. Karena dengan adanya masalah, Anda bisa belajar untuk menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih bijak. Masalah memang terlihat mengganggu, namun harus selalu ada dalam kehidupan manusia. Mengapa? Tuhan mengajak Anda untuk mengerti seberapa besar kemampuan yang Anda miliki. Tuhan mengajarkan manusia untuk terus belajar dan mengambil hikmah dari setiap masalah yang dihadapi. Yakinkan diri Anda bahwa setiap satu masalah telah berhasil Anda selesaikan, Anda sudah menjadi satu pribadi yang lebih baik dari yang sebelumnya.