Tuesday, October 21, 2014

MUSIKALITAS DAN DISPOSISI

Seseorang yang disebut sebagai pencipta musik memerlukan selera musikal dan bakat yang khusus untuk mulai menciptakan sebuah karya orisinilnya. Selera musikal atau musikalitas saja belum bisa memberikan sebuah jaminan yang cukup untuk menentukan adanya sebuah bakat untuk menciptakan sebuah karya orisinil. Saya beranggapan bahwa musikalitas merupakan sebuah syarat yang mutlak bagi seseorang jika ia ingin menerjunkan diri ke dalam sebuah dunia yang disebut dengan dunia artistik musikal. Orang yang memiliki musikalitas disebut sebagai orang yang musikal.

Orang yang musikal lantas belum tentu mampu belajar bagaimana cara memainkan sebuah biola dengan baik, atau membuat sebuah karya musik orisinil yang bisa dikatakan baik. Musikalitas seseorang mempunyai ketepatgunaannya sendiri. Seseorang mungkin memiliki bakat khusus untuk memainkan sebuah biola dengan sangat baik, sedangkan ada juga seseorang yang akan jauh lebih sukses jika ia mendalami piano. Dan mungkin yang lainnya lagi mungkin akan lebih merasa cocok untuk mempelajari cara memainkan sebuah klarinet.

Hal-hal demikian lalu oleh kebanyakan tenaga didik musik mengatakan bahwa setiap orang memiliki disposisi, baik untuk belajar memainkan piano maupun biola, terompet dan seterusnya. Disposisi ini sangat bergantung kepada faktor-faktor kejiwaan serta fisik (keadaan jasmaniah) orang yang dikatakan musikal sebelumnya.

Dengan menggunakan psycho test, para ahli musik telah menemukan cara-cara tertentu untuk menetapkan disposisi musikalitas seseorang. Psycho test ini telah banyak sekali membantu mengurangi kekecewaan seseorang di dalam memilih alat musik yang hendak dipelajarinya di kemudian hari.

Tentang test jasmaniah untuk menetapkan disposisi musikalitas seseorang, disini dapat dikemukakan sebuah contoh. Seseorang yang mempunyai pertumbuhan gigi sebelah muka yang tidak baik, janganlah hendaknya ia memilih terompet sebagai alat yang hendak dipelajari. Yang mempunyai cedera pada tangan kirinya, jangan umpamanya mencoba untuk mempelajari biola, karena suatu ketika, jika ia tetap melakukannya, ia akan menemukan kesukaran-kesukaran tertentu. Penelitian terkait disposisi ini hendaknya janganlah dianggap remeh oleh seseorang yang ingin menerjunkan dirinya ke dalam dunia olah musik. Sebagai contoh, seseorang yang musikal ingin sekali untuk mempelajari piano. Lalu, setelah ia belajar selama satu tahun, gurunya memberitahu kepadanya bahwa dia tidak mempunyai bakat khusus untuk menjadi seorang pianis yang baik. Untuk sekedar memainkannya memang tidak apa-apa. Atau untuk menjadi seorang pianis amatir, misalnya. Tetapi semua hal tersebut terserah kepada orang tersebut. Jika berhasil nantinya, syukurlah. Jika tidak berhasil, sudahlah. Dengan kemauan yang keras untuk belajar, dia pindah ke bidang pelajaran biola. Disini ia juga tidak mampu untuk mencapai kemajuan yang telah diharapkan. Aneh, padahal dalam mata pelajaran lainnya, musikalitasnya cukup baik.

Akhirnya sesudah mulai belajar memainkan alat-alat perkusi (yang dipukul) beberapa waktu lamanya, gurunya sangat bergembira. Bergembira karena melihat muridnya maju dalam waktu yang relatif cepat. Ternyata, sebenarnya ia memiliki disposisi untuk alat-alat perkusi. Dia sangat peka terhadap irama atau ritme. Akan tetapi, bagaimanapun juga, murid dan gurunya tersebut telah membuang waktu selama dua tahun. Satu tahun untuk belajar piano dan satu tahun untuk mendalami biola. Tetapi semua hal tersebut bukanlah masalah. Belajar musik memang membutuhkan kesabaran, kemauan yang keras serta ketekunan dari para pembelajarnya. Demikian juga dengan para tenaga didiknya.

No comments:

Post a Comment