Friday, November 14, 2014

KAJIAN SUBALTERNITAS DALAM DOMINASI KEBUDAYAAN MUSIK LOKAL BARAT DALAM PENDIDIKAN MUSIK FORMAL (PENGANTAR TEORI MUSIK) DI INDONESIA

A. PENGANTAR

Telah diketahui, dimengerti, serta dipahami bahwa musik adalah sebuah bentuk seni mengolah bunyi. Semesta pembicaraan dari musik adalah bunyi dan olahan bunyi dalam musik sering dikatakan melibatkan rasa, bahkan karsa manusia yang terdalam sekalipun. Itulah mengapa musik bukanlah hanya sekedar pembelajaran dan atau pelajaran tentang keterampilan dalam mengolah bunyi. Musik adalah sebuah ilmu pengetahuan. Musik adalah sebuah pendidikan. Sekolah musik di Indonesia sanggup digolongkan menjadi sekolah musik formal, yang berupa perguruan tinggi musik, akademi musik, institut musik, serta lembaga formal musik yang lainnya. Sedangkan untuk pendidikan non-formal musik berupa lembaga pendidikan kursus musik yang banyak terdapat di berbagai kota yang tersebar luas di Indonesia.

Satu hal yang seringkali terlupakan mengenai pendidikan formal (atau lebih spesifik mengarah kepada bentuk pendidikan yang disebut sebagai Pengantar Teori Musik atau Sejarah Dasar Musik), disini mengarah kepada pendidikan tersebut dalam keberlangsungannya dalam sistem yang tercipta di Indonesia, adalah tentang bagaimana mutlaknya pendidikan kebudayaan musik lokal Barat sebagai dasar dari pengantar pendidikan musik tersebut. Pendidikan musik seringkali diungkapkan "berkiblat ke arah dunia Barat", baik dalam tahapan pengenalan dasarnya maupun juga di dalam perkembangannya di dunia. Dalam hampir setiap buku pengantar musikyang tersedia secara umum berisi tentang perkembangan musik Barat. Komposer-komposer klasik kenamaan seperti Wolfgang Amadeus Mozart, atau Ludwig van Beethoven adalah nama-nama yang sudah pasti akan dipelajari dalam Pengantar Teori Musik. Begitu pula dengan perkembangan musik pada masa Barok, Renaisans, dan lain sebagainya merupakan sebuah bukti yang sangat jelas akan besarnya dominasi kebudayaan musik lokal Barat sebagai sebuah dasar atau landasan pendidikan musik di Indonesia, bahkan di dunia.

Beberapa pertanyaan yang utama seperti "Apakah benar asal-usul musik yang ada di dunia ini berasal dari kebudayaan musik lokal Barat sehingga kemudian Pengantar Teori Musik merujuk kepada perkembangan musik Barat saja?", serta "Dimanakah letak musik-musik tradisional atau endemik yang bahkan telah ada di dalam masyarakat Indonesia jauh sebelum musik Barat mendominasi musik di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia?"

Teori Post-Kolonialisme melalui konsepnya, Subalternitas, memberikan sebuah dasar bagi penjelasan yang terkait tentang pokok-pokok permasalahan serta analisa yang telah saya lakukan, sehingga terbentuknya makalah singkat ini. Pokok pembahasan yang saya angkat adalah bagaimana kebudayaan musik lokal Barat telah berhasil mendominasi standar pendidikan musik, konsentrasi yang ada di sini adalah Pengantar Teori Musik di Indonesia, yang bahkan menghapuskan jejak eksistensi kebudayaan musik lokal Indonesia sendiri di dalam materi-materi pembahasannya.

B. SUBALTERN DAN PENDIDIKAN MUSIK DI INDONESIA

Konsep Subalternitas bisa didefinisikan sebagai sebuah konsep yang memberikan sebuah penjelasan tentang kelompok masyarakat atau sebuah kelompok sosial yang menjadi subyek hegemoni oleh kelompok-kelompok atau kelas-kelas yang memiliki otoritas (yang berkuasa), yang sering disebut kaum elit. Kaum Subaltern tidak memiliki kemampuan untuk memahami keberadaannya, serta tidak memiliki ataupun tidak sanggup menyuarakan aspirasi maupun gagasan-gagasannya. Subjek Subalternitas dalam bahasan ini adalah posisi yang dimiliki oleh kebudayaan musik lokal, khususnya dalam hal ini adalah kebudayaan musik lokal Indonesia, dimana posisinya sebagai sebuah kebudayaan musik lokal tersebut 'dihilangkan' keberadaannya oleh eksistensi dan hegemoni tersirat kebudayaan musik lokal dari Barat.

Memang, untuk menjaga serta mengembangkan nilai sebuah karya musik, baik karya oleh para pelakunya, maupun karya oleh para komposernya, maka perlu didirikan lembaga-lembaga pendidikan musik. Di Indonesia, pemerintah telah mendirikan Sekolah Musik Indonesia pada tahun 1951, yang kemudian disertai oleh didirikannya Akademi Musik Indonesia beberapa tahun setelahnya. Kedua institusi pendidikan tersebut terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lalu, sebenarnya apa saja yang menjadi standar kompetensi atau bahan pembelajaran dalam institusi-institusi pendidikan musik tersebut? Di dalam buku "Komponis, Pemain Musik dan Publik" oleh Sumaryo L.E. membagi teori dasar musik menjadi tiga (3) bagian, yaitu Bidang Penciptaan Musik (Komposisi), Bidang Penyajian Musik (Sastra), dan Mengenai Publik (Audiensi). Sementara itu, Bruno Nettl mengungkapkan bahwa pendidikan musik formal di seluruh dunia harus melingkupi tiga (3) buah komponen utama, yaitu studi tentang musik klasik Barat, studi tentang tradisi musik lokal, dan pengetahuan umum mengenai musik-musik lokal lainnya dari negara ataupun belahan bumi lainnya yang berbeda.

Apakah benar bahwa asal-usul musik di dunia ini berasal dari dunia Barat? Menurut sudut pandang studi Etnomusikologi, musik tidak lagi ideal jika dikatakan berasal dari kebudayaan Barat serta lahir dan hidup sejak masa klasik Eropa. Musik bisa dikatakan sebagai sebuah bahasa yang universal bagi orang pada umumnya. Tetapi, untuk memahami asal-usul dari dunia musik (the origins of the musical world) tersebut, musik bukanlah sebuah bahasa yang universal, tetapi, lebih tepat didefinisikan sebagai sebuah bahasa yang memiliki karakteristiknya masing-masing, atau juga bisa dikatakan sebagai sebuah sistem komunikasi, dimana dalam setiap bagiannya saling terhubung dan bersatu tanpa harus mengurangi keunikannya masing-masing, serta setiap dari bagian tersebut sama bermaknanya untuk dipelajari dan dipahami. Dalam definisi ini, tidak ada kebudayaan musik tertentu yang kemudian menonjol dan berkuasa atas kebudayaan-kebudayaan musik lainnya. Dengan pandangan bahwa dunia musik adalah sebuah bagian-bagian dari sebuah sistem musik yang jelas dan lengkap, serta memiliki batasan-batasan yang membedakannya serta mampu memberikan warna khusus dalam setiap bagiannya, hal ini kemudian dianggap sebagai sebuah perkembangan yang positif bagi sudut pandang tentang dunia musik (musical world).

Namun, tetap saja dalam standar kompetensi maupun bahan pembelajaran Pengantar Teori Musik didominasi oleh kebudayaan musik lokal Barat dan hal tersebut belum berubah hingga saat ini. Lalu, bagaimanakah dengan posisi kebudayaan musik lokal Indonesia? Ya, di dalam banyak buku Pengantar Teori Musik tidak ditemukan materi tentang musik lokal Indonesia seperti angklung, gamelan, dan lain sebagainya. Alasan tidak adanya materi tentang kebudayaan musik lokal Indonesia tersebut karena materi-materi yang ada di dalamnya (tidak hanya musik lokal Indonesia, namun juga musik-musik lokal negara lainnya di luar bumi Eropa) memiliki perbedaan klasifikasi dalam pembelajarannya. Sebenarnya, apakah definisi dari klasifikasi pembelajaran tersebut?

Jadi, hal tersebut bukanlah merupakan konsentrasi dari pendidikan musik formal di Indonesia, juga dalam Pengantar Teori Musik, sehingga eksistensinya kemudian secara bertahap dihapuskan dari materi pembelajaran Teori Musik, sehingga sampai dengan saat ini, keberadaan musik lokal tersebut sudah tidak lagi ditemukan di dalam literatur fisik Pengantar Teori Musik. Kelengkapan informasi yang dimiliki oleh sejarah kebudayaan musik lokal Barat yang menjadi alasan utama mengapa pendidikan musik formal di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, kemudian dikatakan berkiblat ke arah dunia Barat. Kebudayaan musik lokal Barat dianggap lebih kompleks, dan namun jauh lebih terstruktur secara sistematis jika harus dibandingkan dengan kebudayaan-kebudayaan musik lokal lainnya di seluruh dunia. Pada perkembangannya, kebudayaan musik lokal Barat memberikan perhatian yang intens, sehingga terus mengalami perkembangan yang signifikan. Di awali dengan sebuah tradisi untuk mempelajari musik hanya melalui kemampuan seseorang untuk mendengar, dan yang kemudian berkembang masuk ke dalam bentuk-bentuk penulisan yang lebih khusus, seperti lembaran partitur yang menggunakan notasi-notasi balok, serta mempelajari harmoni dan keterkaitannya di dalam sebuah komposisi ataupun pembentukan musik itu sendiri. Berbeda dengan kebudayaan musik lokal negara maupun benua lainnya (termasuk Indonesia) yang perkembangannya jauh lebih pasif dari masa ke masa, dan ruang lingkupnya yang cenderung lebih mikro (hanya ada dan berkembang dalam suatu daerah tertentu, biasanya hanya dalam daerah asalnya, dan merupakan sebuah tradisi turun-temurun). Persebaran kebudayaan musik lokal Barat pun cenderung jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan kebudayaan musik lokal lainnya (hal ini berkaitan erat dengan konsep Gold, Glory, and Gospel yang menjadi kata kunci dari setiap ekspedisi yang dilakukan oleh bangsa Eropa).

C. ETNOMUSIKOLOGI SEBAGAI JAWABAN?

Lalu, dimanakah letak kebudayaan musik lokal Indonesia saat ini? Dimanakah keberadaan kebudayaan musik lokal yang bahkan telah ada dan hidup di dalam masyarakat Indonesia jauh sebelum kebudayaan musik lokal Barat masuk ke Indonesia? Jika dilakukan sebuah pencarian serta pengkajiannya di dalam pendidikan musik formal, atau spesifiknya Pengantar Teori Musik, baik itu departemen Musik Komposisi maupun Sastra Musik, maka eksistensinya tidak akan ditemukan. Berbicara tentang keberadaan atau eksistensinya saat ini, maka perlu dibahas tentang kajian studi Etnomusikologi. Apakah definisi dari Etnomusikologi?

Di Indonesia, program studi Etnomusikologi masihlah sebuah program studi yang bisa dikatakan, baru. Istilah Etnomusikologi dalam bahasa Inggris ialah Ethnomusicology. Etnomusikologi dibentuk dari tiga (3) buah kata dasar, yaitu etnos, mausike, dan logos (bahasa Yunani). Etnos memiliki arti sebagai sebuah kehidupan bersama, yang kemudian sanggup dikembangkan menjadi bangsa ataupun etnis. Mausike memiliki definisi sebagai ruang bunyi, atau lebih umumnya adalah musik. Logos memiliki definisi sebagai bahasa atau ilmu. Jadi dalam arti yang sangat sederhana, Etnomusikologi bisa diartikan sebagai sebuah ilmu tentang musik bangsa-bangsa, atau ilmu tentang musik etnis dunia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Etnomusikologi memiliki pengertian sebagai "ilmu perbandingan musik yang bertujuan untuk memperoleh pengertian tentang sejarah asal-usul, perkembangan, serta persebaran musik pada pelbagai bangsa di dunia." Seorang pakar Etnomusikologi, Bruno Nettl, mendefinisikan Etnomusikologi sebagai "ilmu yang mempelajari musik dan berbagai aspeknya dalam kebudayaan manusia, biasanya di luar kebudayaan Barat."

Peranan dari studi Etnomusikologi itu sendiri adalah melepaskan kebudayaan musik lokal non-Barat dari belenggu pendidikan musik formal yang memiliki kiblat ke arah kebudayaan musik lokal Barat. Sebuah poin utama dari studi bidang Etnomusikologi ini adalah bahwa musik yang ada di semesta adalah campuran kebudayaan manusia dari setiap belahan dunia. Semua musik yang telah ada tidak hanya tercipta karena kebudayaan itu sendiri, namun juga merupakan pengaruh dari kebudayaan-kebudayaan lainnya. Setiap kebudayaan mempunyai konsepsinya sendiri mengenai keberadaan dunia musik, tidak terkecuali Indonesia, dan keberagaman inilah yang menjadi konsentrasi utama dari bidang studi Etnomusikologi. Dalam dunia yang modern seperti saat ini, Etnomusikologi mengajarkan kepada setiap orang yang tertarik akan studi ini bahwa Etnomusikologi tidak hanya mempelajari kebudayaan musik lokal tertentu saja, namun juga seluruh kebudayaan-kebudayaan musik lokal di dalam setiap lingkup sosial di seluruh dunia, baik itu secara umum maupun secara khusus, karena di dalam Etnomusikologi, musik adalah sebuah cara yang efektif untuk mendefinisikan pengertian dari kebudayaan yang ada dalam sebuah kelompok sosial tertentu, dan juga mampu berperan untuk menghargai kebudayaan dari lingkungan sosial lainnya di luar kebudayaannya sendiri. Dan yang dimaksud dengan lingkungan sosialnya tidak berarti hanya lingkungan yang dibedakan berdasarkan negaranya, atau sekelompok yang dikategorikan ke dalam sistem penggunaan bahasa yang sama, namun juga kelompok-kelompok yang dikategorikan berdasarkan kelas sosial, mata pencaharian, sistem kepercayaan (agama), dan yang juga cukup penting, berdasarkan pengelompokkan usianya. Setiap kelompok sosial di dalam sebuah masyarakat secara universal memiliki kebudayaannya sendiri, keseniannya sendiri, serta pengertian terhadap musikalitasnya tersendiri.

Keberadaan kebudayaan musik lokal di Indonesia dalam kajian studi Etnomusikologi pun menjadi sebuah primadona, dan dalam beberapa universitas di dunia telah menjadi sebuah "mata kuliah yang sangat sayang untuk dilewatkan". Kenyataan ini tentu juga menyelamatkan eksistensi dari kebudayaan musik lokal Indonesia, baik di Indonesia sendiri, maupun di mata dunia.

Sebenarnya kenyataan ini pula telah menjadi sebuah kesempatan emas, terutama bagi para pelaku seni di Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu kebudayaan musik lokal Barat dan membuktikan kepada masyarakat Indonesia secara umum, dan kepada dunia secara luas, bahwa kebudayaan musik lokal Indonesia juga memiliki kualifikasi yang sangat baik sebagai acuan dasar dalam bidang studi musik, walaupun masih diperlukannya penyusunan ulang secara lebih sistematis dalam penulisan akademisnya sebagai bahan pembelajaran pendidikan musik formal, atau dalam istilah lainnya, mengembalikan kembali posisi kebudayaan musik lokal Indonesia masuk ke dalam bab pembelajaran Pengantar Teori Musik. Etnomusikologi telah menjadi jembatan yang telah berfungsi dengan sangat efektif dalam perkembangan musik dunia, yang menghidupkan kembali kebudayaan musik lokal suatu daerah, tidak terkecuali di Indonesia. Etnomusikologi telah berhasil menjadi salah satu sumber materi pembelajaran musikalitas, memunculkan ide-ide baru tentang musik, dan mengubah sudut pandang manusia (masyarakat) secara umum mengenai keberadaan eksplanasi asal-usul dunia musik.

Lalu, apakah kemudian sebenarnya pendidikan musik formal  dan studi Etnomusikologi merupakan dua buah bidang yang saling bertolak belakang? Tentu tidak.  Kedua bidang tersebut saling melengkapi serta saling mengisi, dan telah menciptakan keseimbangan yang baik terhadap perkembangan ilmu pengetahuan tentang musik. Etnomusikologi bukan semata-mata sebagai bentuk protes tidak berdasar terhadap pendidikan musik formal yang berkiblat ke arah kebudayaan musik Barat, namun adalah sebuah solusi cerdas untuk menyeimbangkan keberadaan antara kebudayaan musik lokal Barat dengan kebudayaan musik lokal Indonesia.

D. PENUTUP

Pendidikan musik formal, dalam hal ini mengambil perhatian khusus terhadap Pengantar Teori Musik, sudah memiliki aturan yang bersifat mutlak dalam penentuan standar kompetensinya, yang pada garis besarnya berisi tentang studi perkembangan kebudayaan musik lokal Barat, yang kemudian turut menghilangkan eksistensi kebudayaan musik lokal Indonesia. Keadaan ini, untuk saat ini, belum tergoyahkan karena kebudayaan musik lokal Barat dianggap lebih kompleks dan juga lebih terstruktur dengan sistematika yang baik, sehingga sangat cocok dan dianggap memenuhi kualifikasi untuk dijadikan kajian utama dalam pendalaman materi Pengantar Teori Musik di Indonesia. Kebudayaan musik lokal Indonesia tidak mampu mengikuti jejak sebagai salah satu bab Pengantar Teori Musik karena kajian akademisnya yang sudah cukup kompleks, namun belum memiliki sistematika struktur yang baik seperti kebudayaan musik lokal Barat.

Namun, keadaan tersebut telah ditemukan solusinya, di saat studi tentang Etnomusikologi, yang adalah studi mengenai pendalaman musik dan berbagai aspeknya dalam kebudayaan manusia, terutama kebudayaan di luar peradaban Barat (non-Barat), masuk dan menjadi program studi baru di Indonesia. Studi ini kemudian berhasil mengkaji kebudayaan musik lokal Indonesia menjadi sebuah kajian akademis yang kompleks dan terstruktur dan berhasil 'memberikan nyawa' kembali kepada kebudayaan musik lokal Indonesia, tidak hanya di dalam negeri, namun juga berhasil menjadi primadona, atau materi musik dengan peminat terbanyak, dalam bidang studi Etnomusikologi bertaraf internasional.

Hal ini juga perlu mendapatkan catatan tambahan bahwa keberadaan Etnomusikologi bukanlah semata-mata sebagai sebuah bentuk perlawanan atau protes terhadap pendidikan musik formal di Indonesia, maupun di dunia. Hal ini adalah solusi yang sangat baik dalam perkembangan musik dunia karena berhasil mengkaji ratusan bahkan ribuan kebudayaan musik lokal di dunia non-Barat, termasuk Indonesia. Bahkan keberadaan studi Etnomusikologi selain untuk melestarikan keberadaan kebudayaan musik lokal, juga berperan sebagai penyeimbang akan pendidikan musik formal (kebudayaan musik Barat) dengan kebudayaan musik lokal, dalam tulisan ini, khususnya kebudayaan musik lokal Indonesia.