Secara umum, persoalan-persoalan yang dihadapi oleh
remaja berkisar pada masalah-masalah pribadi yang identik dengan para remaja
itu sendiri. Masalah pribadi yang dimaksud tersebut antara lain mencakup hal-hal berikut.
- Persoalan yang dihadapi didalam rumah, misalnya masalah kedisiplinan, hubungan dengan anggota keluarga yang lainnya, dan seterusnya.
- Masalah yang dihadapi di sekolah, seperti misalnya hubungan dengan para guru, teman-teman, nilai-nilai, kegiatan-kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler, pola keterampilan, dan seterusnya.
- Persoalan kondisi fisik, misalnya kesehatan individual, kesehatan sosial, dan seterusnya.
- Masalah penampilan, misalnya ketampanan atau kecantikan, cara berpakaian, dan seterusnya.
- Persoalan perasaan, misalnya sikap yang murung, mudah marah, murah senyum, dan seterusnya.
- Masalah penyerasian sosial, misalnya pergaulan dengan teman sebaya, masalah kepemimpinan, dan seterusnya.
- Persoalan nilai-nilai, misalnya moralitas, persepsi seksualitas, pola interaksi, dan seterusnya.
- Masalah rasa khawatir, misalnya rasa berbahaya, kekecewaan, dan seterusnya.
A.
REMAJA DAN CIRI-CIRINYA
Golongan remaja muda adalah para gadis yang berusia 13 hingga 17 tahun. Hal inipun sangat tergantung pada tingkat kematangannya secara seksual, sehingga penyimpangan-penyimpangan secara kasuistis pasti ada. Bagi laki-laki, yang disebut remaja muda adalah mereka yang berusia 14 hingga 17 tahun.
Apabila remaja muda sudah menginjak usia 17 hingga 18 tahun, mereka lazim disebut golongan muda atau pemuda-pemudi. Sikap mereka didalam bertindak rata-rata sudah mendekati pola sikap bertindak orang dewasa, walaupun melalui sudut perkembangan mentalitas mereka belum sepenuhnya demikian. Biasanya mereka berharap agar mereka dianggap dewasa oleh masyarakat.
Dari sudut batas usia saja sudah terlihat bahwa golongan remaja sebenarnya tergolong dalam kategori golongan yang transisional. Artinya, keremajaan merupakan gejala sosial yang bersifat sementara, oleh karena posisi mereka terletak antara usia kanak-kanak dan usia dewasa. Sifat sementara dari kedudukannya tersebut mengakibatkan remaja cenderung masih mencari identitasnya, karena oleh anak-anak mereka sudah dianggap dewasa, sedangkan orang dewasa masih menganggap mereka kecil. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari sudut kepribadiannya, para remaja memiliki karakteristik tertentu, baik secara fisik maupun rohani. Contoh karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.
Golongan remaja muda adalah para gadis yang berusia 13 hingga 17 tahun. Hal inipun sangat tergantung pada tingkat kematangannya secara seksual, sehingga penyimpangan-penyimpangan secara kasuistis pasti ada. Bagi laki-laki, yang disebut remaja muda adalah mereka yang berusia 14 hingga 17 tahun.
Apabila remaja muda sudah menginjak usia 17 hingga 18 tahun, mereka lazim disebut golongan muda atau pemuda-pemudi. Sikap mereka didalam bertindak rata-rata sudah mendekati pola sikap bertindak orang dewasa, walaupun melalui sudut perkembangan mentalitas mereka belum sepenuhnya demikian. Biasanya mereka berharap agar mereka dianggap dewasa oleh masyarakat.
Dari sudut batas usia saja sudah terlihat bahwa golongan remaja sebenarnya tergolong dalam kategori golongan yang transisional. Artinya, keremajaan merupakan gejala sosial yang bersifat sementara, oleh karena posisi mereka terletak antara usia kanak-kanak dan usia dewasa. Sifat sementara dari kedudukannya tersebut mengakibatkan remaja cenderung masih mencari identitasnya, karena oleh anak-anak mereka sudah dianggap dewasa, sedangkan orang dewasa masih menganggap mereka kecil. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari sudut kepribadiannya, para remaja memiliki karakteristik tertentu, baik secara fisik maupun rohani. Contoh karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.
- Perkembangan fisik yang pesat, sehingga ciri-ciri fisik sebagai laki-laki maupun wanita tampak semakin tegas, bagaimana secara ditonjolkan oleh para remaja, sehingga perhatian terhadap jenis kelamin lainnya semakin meningkat. Oleh para remaja, perkembangan fisik yang baik dianggap sebagai salah satu kebanggaan.
- Keinginan yang kuat untuk mengadakan interaksi sosial dengan kalangan yang lebih dewasa atau yang dianggap lebih matang kepribadiannya. Terkadang diharapkan bahwa interaksi sosial tersebut mengakibatkan masyarakat menganggap remaja sudah dewasa.
- Keinginan yang kuat untuk mendapatkan kepercayaan dari kalangan orang dewasa walaupun terkait masalah tanggung jawab relatif belum matang.
- Mulai memikirkan kehidupan secara mandiri baik secara sosial, ekonomi, maupun politik, dengan mengutamakan kebebasan dari pengawasan yang terlalu ketat dari orang tua maupun sekolah.
- Adanya perkembangan tingkat intelektualitas untuk mendapatkan identitas dirinya.
- Menginginkan sistem nilai yang serasi dengan kebutuhan atau keinginannya yang tidak selalu sama dengan sistem nilai yang dianut oleh orang dewasa.
- Kalangan remaja berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan situasi akan tetapi dengan cara-caranya sendiri. Jika hal tersebut terwujud, maka mereka akan merasakan adanya perasaan bahagia didalam diri mereka.
- Pola tindakan yang diakui atau dihargai oleh sesama remaja dianggap sebagai suatu superioritas atau lebih tepatnya dianggap sebagai sebuah pengakuan terhadap superioritas (biasanya terjadi didalam peer-group atau kelompok sepermainan). Pengakuan terhadap eksistensi sangatlah penting oleh para remaja.
- Berbagai media penyaluran rasa tegang diciptakan oleh para remaja misalnya membunyikan radio atau musik keras-keras, tertawa terbahak-bahak terhadap lelucon yang konyol, begadang bersama teman-temannya, mengemudikan kendaraan bermotor dan sering melanggar peraturan lalu lintas, dan lain sebagainya.
- Mencoba membuat ciri identitas tersendiri seperti misalnya menggunakan pola bahasa khusus yang terkadang sulit dipahami oleh kalangan diluar golongan remaja, yang artinya baik itu oleh golongan anak-anak maupun golongan orang dewasa. Terkadang mereka berusaha menciptakan kebudayaan khusus melalui pola perilaku tertentu yang berbeda dengan orang dewasa.
- Sikap agresif.
- Mencari kambing hitam yang sebenarnya merupakan korban yang tidak bersalah.
- Kemunduran dalam diri misalnya menjadi banyak melamun.
- Regresi, yaitu melakukan hal-hal yang di masa lalu memuaskan dirinya.
- Mengurangi aspirasi atau sebaliknya.
B.
HUBUNGAN ORANG TUA DENGAN REMAJA
Kesulitan-kesulitan dalam mengadakan hubungan yang serasi antara orang tua dengan remaja pasti ada. Akan tetapi kesulitan-kesulitan tersebut ada yang dengan mudah bisa diatasi, namun ada pula yang sulit untuk diatasi. Walaupun tidak selalu demikian, namun ada kecenderungan-kecenderungan umum mengenai masalah-masalah yang sulit atau kurang sulit untuk ditanggulangi. Sudah tentu bahwa ada berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, misalnya keadaan sosial-ekonomi, mentalitas, lingkungan pekerjaan, lingkungan sosial, dan seterusnya.
Pada umumnya, penafsiran tentang tingkatan kesulitan masalah hubungan antara orangtua dengan anak-anaknya yang sedang menjadi seorang remaja tergantung pada orangtua dengan remaja dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi. Yang perlu dijadikan pedoman adalah bahwa hendaknya orangtua tidak hanya menggunakan sudut pandang “orangtua” untuk menilai pola tindakan para remaja. Mereka harus diberitahu dan diajak untuk memahami berbagai hal yang mungkin tidak terpuji. Artinya, janganlah segala sesuatu hanya diberikan dalam bentuk perintah-perintah yang berisikan larangan-larangan belaka. Para remaja pada akhirnya akan bertanya: “Apa yang sebenarnya boleh saya perbuat? Semua hal serba dilarang.
Apabila kesulitan-kesulitan tersebut tidak tertanggulangi, maka besar kemungkinannya remaja merasa tidak nyaman dan bahagia, sehingga dia bisa mengalami hal-hal sebagai berikut.
Kesulitan-kesulitan dalam mengadakan hubungan yang serasi antara orang tua dengan remaja pasti ada. Akan tetapi kesulitan-kesulitan tersebut ada yang dengan mudah bisa diatasi, namun ada pula yang sulit untuk diatasi. Walaupun tidak selalu demikian, namun ada kecenderungan-kecenderungan umum mengenai masalah-masalah yang sulit atau kurang sulit untuk ditanggulangi. Sudah tentu bahwa ada berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, misalnya keadaan sosial-ekonomi, mentalitas, lingkungan pekerjaan, lingkungan sosial, dan seterusnya.
Pada umumnya, penafsiran tentang tingkatan kesulitan masalah hubungan antara orangtua dengan anak-anaknya yang sedang menjadi seorang remaja tergantung pada orangtua dengan remaja dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi. Yang perlu dijadikan pedoman adalah bahwa hendaknya orangtua tidak hanya menggunakan sudut pandang “orangtua” untuk menilai pola tindakan para remaja. Mereka harus diberitahu dan diajak untuk memahami berbagai hal yang mungkin tidak terpuji. Artinya, janganlah segala sesuatu hanya diberikan dalam bentuk perintah-perintah yang berisikan larangan-larangan belaka. Para remaja pada akhirnya akan bertanya: “Apa yang sebenarnya boleh saya perbuat? Semua hal serba dilarang.
Apabila kesulitan-kesulitan tersebut tidak tertanggulangi, maka besar kemungkinannya remaja merasa tidak nyaman dan bahagia, sehingga dia bisa mengalami hal-hal sebagai berikut.
- Disorganisasi perilaku.
- Bersikap murung.
- Senang berkelahi dengan orang lain.
- Bersikap anti sosial.
- Merasa kesepian.
- Tidak peduli dengan perkembangan diri.
- Senang mengkambing-hitamkan orang lain.
- Lari dari kenyataan yang dihadapinya.
C.
REMAJA YANG MENENTANG
Penanggulangan terhadap kesulitan pada hubungan antara orangtua dengan remaja sangatlah penting. Hal ini disebabkan, karena apabila masalah tersebut tidak ditanggulangi, maka para remaja biasanya akan menentang orangtuanya atau orang-orang yang dituakan, misalkan guru. Para remaja yang menentang tersebut biasanya dapat dibedakan dalam (paling tidak) empat golongan. Penggolongan tersebut didasarkan pada efek negatif dari pendidikan yang dialaminya di rumah. Golongan-golongan yang menentang tersebut biasanya dapat dibedakan menjadi bagian-bagian seperti berikut.
Teori-teori yang berasal dari masyarakat Barat cenderung berpendapat bahwa golongan orangtua yang seperti itu adalah mereka yang termasuk didalam status sosial-ekonomi yang agak lemah. Namun di Indonesia tidak selalu demikian keadaannya, karena kecenderungan yang demikian juga ditemukan pada keluarga-keluarga dengan status sosial-ekonominya relatif baik. Remaja yang menentang, yang mungkin tergolong pemberontak dan eksentrik mungkin juga timbul dari pola pendidikan yang pelaksanaannya hanya menitikberatkan kepada salah satu dari orangtua saja, misalkan hanya ibu. Atau terkadang rasa menentang juga timbul dari remaja yang berasal dari keluarga-keluarga dimana orangtuanya terlampau sibuk, sehingga hanya dapat memberikan perhatian yang sangat terbatas, atau bahkan, tidak sama sekali.
Pendidikan yang diterapkan secara liberal dalam rumah terkadang menghasilkan remaja yang termasuk kategori pembaharu atau aktivis. Pada umumnya, remaja yang demikian berasal dari keluarga yang orangtuanya banyak terlibat dalam dunia politik praktis, walaupun tidak selalu demikian. Golongan remaja yang menentang tersebut pada umumnya melancarkan kritik-kritik terhadap kalangan-kalangan tertentu, misalnya orangtuanya, kakak-kakaknya, guru, kerabat, dan seterusnya.
Penanggulangan terhadap kesulitan pada hubungan antara orangtua dengan remaja sangatlah penting. Hal ini disebabkan, karena apabila masalah tersebut tidak ditanggulangi, maka para remaja biasanya akan menentang orangtuanya atau orang-orang yang dituakan, misalkan guru. Para remaja yang menentang tersebut biasanya dapat dibedakan dalam (paling tidak) empat golongan. Penggolongan tersebut didasarkan pada efek negatif dari pendidikan yang dialaminya di rumah. Golongan-golongan yang menentang tersebut biasanya dapat dibedakan menjadi bagian-bagian seperti berikut.
- Pemberontak yang menentang atau tidak mentaati semua pihak yang memegang kekuasaan. Mereka juga tidak mentaati semua nilai tradisional yang berlaku. Sikap menentang dilakukan secara terbuka dan seringkali disertai rasa marah.
- Pembaharu adalah mereka yang berkeinginan untuk mengubah segala pola perilaku tradisional maupun adat-istiadat. Pola tindakan dan adat istiadat yang berlaku dianggapnya penuh dengan kekurangan, sehingga dirasa tidak sesuai.
- Aktivis yaitu golongan yang sebenarnya merupakan pembaharu, namun juga menggunakan cara-cara yang lebih radikal atau keras.
- Golongan eksentrik yang mengundurkan diri dari pergaulan umum dan menciptakan peraturan-peraturan sendiri. Mereka rata-rata melakukan tindakan menentang secara individual.
Teori-teori yang berasal dari masyarakat Barat cenderung berpendapat bahwa golongan orangtua yang seperti itu adalah mereka yang termasuk didalam status sosial-ekonomi yang agak lemah. Namun di Indonesia tidak selalu demikian keadaannya, karena kecenderungan yang demikian juga ditemukan pada keluarga-keluarga dengan status sosial-ekonominya relatif baik. Remaja yang menentang, yang mungkin tergolong pemberontak dan eksentrik mungkin juga timbul dari pola pendidikan yang pelaksanaannya hanya menitikberatkan kepada salah satu dari orangtua saja, misalkan hanya ibu. Atau terkadang rasa menentang juga timbul dari remaja yang berasal dari keluarga-keluarga dimana orangtuanya terlampau sibuk, sehingga hanya dapat memberikan perhatian yang sangat terbatas, atau bahkan, tidak sama sekali.
Pendidikan yang diterapkan secara liberal dalam rumah terkadang menghasilkan remaja yang termasuk kategori pembaharu atau aktivis. Pada umumnya, remaja yang demikian berasal dari keluarga yang orangtuanya banyak terlibat dalam dunia politik praktis, walaupun tidak selalu demikian. Golongan remaja yang menentang tersebut pada umumnya melancarkan kritik-kritik terhadap kalangan-kalangan tertentu, misalnya orangtuanya, kakak-kakaknya, guru, kerabat, dan seterusnya.
D.
PENUTUP
Secara teoritis, tidak mungkin untuk menemukan upaya-upaya yang pasti untuk menanggulangi permasalahan yang telah diuraikan di atas. Sepertinya kunci yang pokok adalah hubungan yang akrab antara orangtua dengan anak-anaknya yang menginjak usia remaja. Hubungan yang akrab tersebut bukanlah semata-mata hanya didasarkan kepada landasan kebendaan saja, akan tetapi senantiasa harus ada penyelarasan dengan landasan spiritual juga. Kedua landasan tersebut tidak mungkin dipisahkan, apalagi saling menggantikan. Keduanya harus selalu diselaraskan, sehingga menghasilkan efek yang baik. Tekanan yang terlampau berat terhadap nilai spiritualisme akan menyebabkan remaja sulit untuk mempelajari dan memahami realitas kehidupan sehari-hari. Jika tekanannya terlampau kuat kepada nilai kebendaan (materialisme), maka remaja tidak akan mampu menghargai hasil-hasil yang diraih melalui proses dan kerja keras; mereka tidak mengenali arti dari bekerja keras untuk mencapai sesuatu secara jujur.
Selain itu, maka pola pendidikan terhadap remaja janganlah semata-mata hanya didasarkan kepada tolok ukur yang diciptakan oleh orangtua. Misalnya, hingga saat ini masih banyak orangtua yang memaksakan kehendaknya agar anak-anaknya memasuki sekolah-sekolah tertentu dengan maksud supaya bisa mengikuti jejak ayah atau ibunya. Apabila memang keinginan anak memang sama, maka tidak akan ada persoalan; akan tetapi apabila remaja memang tidak menginginkannya, maka akan timbul konflik apabila orangtua tetap memaksakan kehendaknya. Mungkin sikap menentang dari remaja tidak selalu tampak. Akan tetapi, dalam kebanyakan hal, nanti setelah mereka menyelesaikan studinya, maka dia akan memilih bidang pekerjaan yang digemarinya, yang tidak jarang jauh dari objek studinya terdahulu.
Hal yang hampir sama mungkin dihadapi remaja dalam memilih pola rekreasi yang bermanfaat bagi remaja, yang mungkin sama sekali tidak masuk dalam pertimbangan orangtua. Dalam hal ini seharusnya orangtua terlebih dahulu mengadakan pembicaraan dengan remaja untuk memilih, menyarankan alternatif berdasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan mana yang lebih baik dan mana yang agaknya kurang baik. Para remaja harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya dengan menciptakan pola rekreasi sendiri (bila mampu). Apabila hal ini sanggup dilakukan, maka orangtua sebaiknya melakukan bimbingan secara berkelanjutan, karena dalam memilih atau menciptakan pola rekreasi tertentu, remaja masih mencari identitas dirinya.
Dengan mempelajari seluk beluk kehidupan remaja secara seksama, orangtua mampu membantu mereka menemukan identitas dirinya. Pola kehidupan remaja pada zaman sekarang memiliki ciri-ciri tersendiri; orangtua tidak bisa memaksakan ciri-ciri kehidupan remaja pada zaman mereka terhadap anak-anaknya. Jika hal tersebut tetap dipegang oleh orangtua, serta tetap diterapkan, maka cara tersebut hanya akan memperbesar kesenjangan. Yang seharusnya dilakukan oleh orangtua dan remaja itu sendiri adalah membandingkan yang sekarang dengan yang dahulu; kemudian orangtua harus memberikan kesempatan kepada anaknya yang adalah remaja untuk memilih pola-pola apa yang hendak dia ambil sendiri.
Secara teoritis, tidak mungkin untuk menemukan upaya-upaya yang pasti untuk menanggulangi permasalahan yang telah diuraikan di atas. Sepertinya kunci yang pokok adalah hubungan yang akrab antara orangtua dengan anak-anaknya yang menginjak usia remaja. Hubungan yang akrab tersebut bukanlah semata-mata hanya didasarkan kepada landasan kebendaan saja, akan tetapi senantiasa harus ada penyelarasan dengan landasan spiritual juga. Kedua landasan tersebut tidak mungkin dipisahkan, apalagi saling menggantikan. Keduanya harus selalu diselaraskan, sehingga menghasilkan efek yang baik. Tekanan yang terlampau berat terhadap nilai spiritualisme akan menyebabkan remaja sulit untuk mempelajari dan memahami realitas kehidupan sehari-hari. Jika tekanannya terlampau kuat kepada nilai kebendaan (materialisme), maka remaja tidak akan mampu menghargai hasil-hasil yang diraih melalui proses dan kerja keras; mereka tidak mengenali arti dari bekerja keras untuk mencapai sesuatu secara jujur.
Selain itu, maka pola pendidikan terhadap remaja janganlah semata-mata hanya didasarkan kepada tolok ukur yang diciptakan oleh orangtua. Misalnya, hingga saat ini masih banyak orangtua yang memaksakan kehendaknya agar anak-anaknya memasuki sekolah-sekolah tertentu dengan maksud supaya bisa mengikuti jejak ayah atau ibunya. Apabila memang keinginan anak memang sama, maka tidak akan ada persoalan; akan tetapi apabila remaja memang tidak menginginkannya, maka akan timbul konflik apabila orangtua tetap memaksakan kehendaknya. Mungkin sikap menentang dari remaja tidak selalu tampak. Akan tetapi, dalam kebanyakan hal, nanti setelah mereka menyelesaikan studinya, maka dia akan memilih bidang pekerjaan yang digemarinya, yang tidak jarang jauh dari objek studinya terdahulu.
Hal yang hampir sama mungkin dihadapi remaja dalam memilih pola rekreasi yang bermanfaat bagi remaja, yang mungkin sama sekali tidak masuk dalam pertimbangan orangtua. Dalam hal ini seharusnya orangtua terlebih dahulu mengadakan pembicaraan dengan remaja untuk memilih, menyarankan alternatif berdasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan mana yang lebih baik dan mana yang agaknya kurang baik. Para remaja harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya dengan menciptakan pola rekreasi sendiri (bila mampu). Apabila hal ini sanggup dilakukan, maka orangtua sebaiknya melakukan bimbingan secara berkelanjutan, karena dalam memilih atau menciptakan pola rekreasi tertentu, remaja masih mencari identitas dirinya.
Dengan mempelajari seluk beluk kehidupan remaja secara seksama, orangtua mampu membantu mereka menemukan identitas dirinya. Pola kehidupan remaja pada zaman sekarang memiliki ciri-ciri tersendiri; orangtua tidak bisa memaksakan ciri-ciri kehidupan remaja pada zaman mereka terhadap anak-anaknya. Jika hal tersebut tetap dipegang oleh orangtua, serta tetap diterapkan, maka cara tersebut hanya akan memperbesar kesenjangan. Yang seharusnya dilakukan oleh orangtua dan remaja itu sendiri adalah membandingkan yang sekarang dengan yang dahulu; kemudian orangtua harus memberikan kesempatan kepada anaknya yang adalah remaja untuk memilih pola-pola apa yang hendak dia ambil sendiri.
No comments:
Post a Comment