Friday, January 23, 2015

TUHAN TIDAK PERNAH TANPA PROSES

A. PENGANTAR

Semua yang diciptakan oleh Tuhan selalu melewati sebuah proses yang panjang. Penciptaan langit, bumi, serta segala isinya, semua melalui sebuah proses. Seperti contohnya perjuangan seekor ulat yang harus berproses menjadi seekor kupu-kupu. Tuhan membiarkan segala ciptaanNya berproses untuk mempelajari kehidupan. Segala peristiwa alam yang terjadi di bumi ini pun tidak terbentuk begitu saja, namun melalui proses.

Sebagai contoh, keberadaan sungai sangat berguna bagi kehidupan semua makhluk hidup di sekitarnya. Berbagai peradaban tersohor di bumi lahir dari wilayah-wilayah yang berada di tepian sungai. Sungai pun tidak secara tiba-tiba ada. Tuhan menciptakan sungai melalui proses yang panjang dengan melibatkan ciptaanNya yang lain. Aliran air berasal dari satu atau beberapa sumber air yang berada di puncak bukit atau gunung, yang terkumpul di bagian yang lebih cekung. Air yang berasal dari ketinggian tersebut awalnya merupakan kumpulan air hujan yang membahasi bumi. Lambat laun, setelah air dalam cekungan bumi tersebut mulai penuh, air akan segera mengalir keluar dari bagian bibir cekungan yang paling mudah tergerus air. Selanjutnya, air akan mengalir di atas permukaan tanah yang paling rendah. Pada awalnya, aliran air tersebut berjalan merata, namun karena ada bagian-bagian permukaan tanah yang tidak begitu keras, sehingga mudah terkikis, air pun berkelok dan jatuh ke bawah. Alur air yang tercipta semakin hari semakin panjang, seiring dengan makin derasnya dan makin seringnya air yang terkumpul di daerah ketinggian. Akibatnya, aliran air semakin panjang, semakin dalam, berbelok, dan kemudian bercabang. Perjalanan air tidak akan terhenti dan terus menembus ke bawah permukaan tanah dan mengalir ke arah dataran yang rendah.

Anda tentu bisa membayangkan bahwa proses terbentuknya sungai begitu panjang dan rumit. Jika terbentuknya sungai saja membutuhkan liku-liku yang kompleks, begitu pula halnya dengan proses penciptaan manusia secara fisik maupun secara mental.

Sebagai ilustrasi, mari sama-sama melihat proses pembelajaran seorang anak di sekolah. Para pelajar selalu ditekankan oleh orangtua maupun gurunya untuk mendapatkan nilai yang terbaik di setiap pelajaran. Pada dasarnya, terkadang mereka tidak mengerti untuk apa nilai yang baik tersebut. Dalam benak para murid, mendapatkan nilai yang baik sama artinya dengan naiknya status sosial mereka di dalam masyarakat. Semua murid dengan tujuan yang sama tersebut ternyata melakukan berbagai usaha dengan berbagai cara yang berbeda. Itulah proses mereka. Ada yang belajar tekun dengan bersungguh-sungguh, ada yang berusaha menyukai pelajarannya agar mudah untuk memahami, ada pula yang bersikap acuh dan memutuskan untuk mencontek pada saat ujian tiba.

Ketika ujian tiba dan setelahnya semua mendapatkan nilai yang tinggi, apa yang membuatnya berbeda? Rata-rata manusia hanya melihat sebuah proses dari hasil akhirnya saja. Itulah keterbatasan manusia yang cenderung berorientasi kepada hasil dibandingkan proses yang sesungguhnya mendewasakan. Tetapi, Tuhan selalu dapat menilai semua makhluk ciptaanNya melalui proses yang dilaluinya. Tuhan mengetahui siapa yang lebih bernilai dari semua murid yang memperoleh nilai tinggi tersebut.



B. PROSES SEORANG MANUSIA

Kemanusiaan ditunjukkan lewat berbagai proses. Kelahiran manusia ke dalam dunia ini membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan. Setelah itu, manusia harus menjalani berbagai proses lagi seperti belajar berjalan, berbicara, dan mengenal benda. Sementara, binatang seperti singa dan kuda begitu dilahirkan langsung bisa berjalan dalam hitungan jam. Oleh karena itu, seluruh proses ekonomi, sosial, budaya, hingga politik yang serba instan tanpa proses, tidak lebih melahirkan sifat 'kebinatangan'.

Dalam hidup, manusia terus berproses. Mereka pun berproses dalam perjalanannya mengenal Tuhan. Ketika masih kecil, mungkin Anda dengan begitu saja percaya terhadap Tuhan. Saat beranjak dewasa, bisa jadi Anda mulai melakukan pertanyaan-pertanyaan tentang iman secara kritis dan berusaha merasionalisasikannya. Bagaimana manusia diharuskan berpikir secara kritis dan cerdas. Setiap proses yang dijalani harus menghasilkan perubahan ke arah kebaikan. Dalam berproses, manusia harus menyiapkan kesabaran dan keikhlasan untuk melalui proses-proses tersebut. Kesabaran dan keikhlasan dalam berproses dibutuhkan guna mengantisipasi setiap tantangan dan hambatan yang selalu ada dalam menjalani proses tersebut. Manusia pun akan tetap memiliki energi untuk melanjutkan sebuah proses yang sukses dan utuh. Tentunya dengan proses yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Wilhelm Schmidt (Schmidt, 1912) menyatakan bahwa telah ada suatu Primitive Monotheism sebelum manusia mulai menyembah banyak dewa. Pada awalnya, mereka mengakui hanya ada satu Tuhan tertinggi, yang telah menciptakan dunia dan menata urusan manusia dari kejauhan. Kepercayaan terhadap satu Tuhan Tertinggi (kadang disebut sebagai Tuhan Langit, karena diasosiasikan dengan ketinggian) masih terlihat dalam agama suku-suku pribumi Afrika. Mereka mengungkapkan kerinduan terhadap Tuhan melalui doa; percaya bahwa Tuhan mengawasi mereka dan menghukum setiap dosa. Namun anehnya, Dia tidak hadir dalam keseharian mereka; tidak ada kultus khusus untukNya dan Dia tidak pernah tampil dalam penggambaran. Warga suku tersebut mengatakan bahwa Dia tidak bisa diekspresikan dan tidak dapat dicemari oleh dunia manusia. Sebagian orang bahkan mengatakan "Dia" telah pergi. Para antropolog berasumsi bahwa Tuhan ini telah menjadi begitu jauh dan mulia sehingga dia sebenarnya telah digantikan oleh roh yang lebih rendah dan Tuhan-Tuhan yang lebih mudah dijangkau. Begitu pula, pada zaman kuno, Tuhan Tertinggi digantikan oleh Tuhan-Tuhan kuil Pagan yang lebih menarik. Pada awalnya, dengan demikian hanya ada satu Tuhan. Jika demikian, Monotheism merupakan salah satu ide tua yang dikembangkan manusia untuk menjelaskan misteri dan tragedi kehidupan.

Kembali ke dalam pembahasan, dalam hidup, manusia terus berproses. Mereka pun berproses dalam perjalanannya mengenal Tuhan. Manusia membentuk aturan, norma, adat, dan tata cara melalui sebuah kesepakatan bersama untuk menghasilkan sebuah keselarasan. Jika ada pihak-pihak yang mencoba melanggar kesepakatan bersama tersebut, maka konflik bisa tercipta. Tahapan-tahapan dalam hidup manusia pun dipengaruhi oleh aturan dalam hidup bermasyarakat.

a. Proses Meniru

Ketika dilahirkan, manusia telah membawa potensi dalam dirinya. Setiap individu berusaha untuk memenuhi hasrat dan motivasi dalam dirinya; beradaptasi, belajar dari alam, lingkungan sosial, dan budayanya.

Saat masih kecil, manusia selalu meniru apa yang dianggapnya menarik. Anak-anak melihat orangtuanya sholat di masjid, kebaktian di gereja, membakar hio di klenteng, berdoa di wihara, dan melakukan ritual peribadatan yang lainnya. Anak-anak akan meniru kebiasaan orangtuanya meskipun belum memahami apa tujuan dari ibadah yang dilakukannya. Memori anak pun akan merekam kebiasaan tersebut sehingga setelah dewasa, ada perasaan untuk tetap melakukannya.

Di sisi lain, anak-anak juga belajar bertutur kata dengan sopan. Dalam prosesnya, anak-anak belajar untuk menerima akibat dari apa yang diucapkannya. Dari konsekuensi tersebutlah proses kehidupan berlanjut. Ketika mengatakannya kata-kata yang kasar, mereka akan tahu bahwa hal tersebut akan menyakiti orang lain. Saat berbicara dengan sopan dan halus, mereka akan merasakan keramahan dari orang lain.

Setiap hari, setiap saat, manusia mendapatkan hal-hal yang baru dan mencoba hal-hal yang belum diketahui. Proses tersebut dinamakan internalisasi.

b. Proses Perkembangan Emosi

Masa yang menentukan masa depan seorang manusia ditentukan dari bagaimana ia memanfaatkan amsa remajanya. Kesalahan pada masa muda ini dapat menghancurkan hidup seseorang. Pada saat remaja, perkembangan emosi akan memuncak karena saat itulah proses menuju kedewasaan terjadi. Pada saat remaja, emosi menjadi sulit dikendalikan sehingga kerap melakukan berbagai kesalahan tanpa disadari. Jika Anda telah beranjak tua atau dewasa, Anda akan mengingat kembali masa remaja dan berpikir untuk mengubah masa lalu agar masa depan menjadi lebih baik dari saat ini.

Remaja selalu berusaha untuk diterima dalam lingkungannya. Mereka mencoba untuk bersosialisasi agar dirinya mendapatkan tempat. Sosialisasi merupakan pengalaman sosial sepanjang hidup yang memungkinkan seseorang mengembangkan potensi kemanusiaannya dan mempelajari pola-pola kebudayaan yang ada di lingkungannya. Dari sosialisasi inilah seorang manusia berusaha untuk mematangkan emosinya dan menuju ke pendewasaan diri.

c. Proses Pendewasaan

Menjadi tua adalah kepastian, namun menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Sebuah ungkapan yang sering disebut oleh banyak orang untuk mendefinisikan makna dewasa. Berulang kali manusia melakukan penafsiran atas pribadi yang dewasa, mulai dari perkembangan biologis, status yang ditetapkan oleh negara, sampai beragam proses diri yang dapat dianggap sesuai kategori dewasa.

Dewasa merupakan kemampuan untuk mendahulukan kebenaran sebelum segala sesuatunya. Kesetiaan pada kebenaran itulah yang menyebabkan seorang manusia menjadi lebih dewasa, dan sebaliknya, ketidakpedulian terhadap yang benar membuat manusia menjadi budak dari hawa nafsu.

Manusia bisa dikatakan dewasa secara rohani ketika dirinya tidak lagi mempertanyakan semuanya lewat sudut pandang rasional. Banyak keajaiban yang terjadi di bumi lewat tangan Tuhan. Mereka yang memahaminya dengan mudah dan tidak selalu menggugat takdir adalah manusia-manusia yang berjabat tangan dengan Tuhan. Sesungguhnya, Anda tengah mendapat pencobaan dari Tuhan, dan hal tersebut berarti bahwa Tuhan tengah mendewasakan Anda.

d. Proses Menuju Tempat Tuhan

Menjadi tua adalah sebuah proses normal. Setiap manusia dapat mengalami masa tua. Di dunia, manusia melalui salah satu dari fase perjalanan kehidupannya. Fase perjalanan kehidupan manusia di dunia adalah fase perjalanan yang panjang dan berliku. Manusia menjalani kehidupan di dunia dengan membawa tugas dari Tuhan. Manusia diberikan ujian oleh Tuhan di dunia untuk menunjukkan siapa saja manusia yang terbaik amal perbuatannya. Manusia harus berjuang dan berusaha untuk melalui ujian-ujian dari Tuhan. Tuhan telah memberikan petunjuk kepada manusia untuk menjalani kehidupannya di dunia.

Kehidupan manusia di dunia merupakan bagian dari fase perjalanan panjang hidup manusia. Fase sebelum menuju akhir perjalanan, menuju tempat tujuan. Di dunia, manusia mempersiapkan diri untuk menuju tempat tujuan di akhir perjalanan hidupnya. Kehidupan dunia adalah penentu dari akhir perjalanan kehidupan manusia. Keberhasilan manusia untuk sampai di tempat yang dituju tergantung dari perjalanan hidupnya di dunia.



C. DAFTAR PUSTAKA

Schmidt, Wilhelm. 1912. The Origin of the Idea of God.

No comments:

Post a Comment